Marhaban Ya Ramadan 1447 H: SMAN Jogoroto Meneguhkan Spiritualitas sebagai Fondasi Integritas Akademik

Jombang, Media Pojok Nasional –
Momentum Ramadan 1447 Hijriah dimaknai secara reflektif dan visioner oleh keluarga besar SMA Negeri Jogoroto. Melalui pesan resmi bertajuk Marhaban Ya Ramadan 1447 H / 2026 M, institusi ini tidak sekadar menyampaikan ucapan seremonial, melainkan menegaskan komitmen bahwa pendidikan adalah proses pembentukan manusia utuh, berilmu, berakhlak, dan berkesadaran spiritual.

Dalam pernyataannya, Kepala Sekolah Mu’alim, M.Pd. menggarisbawahi bahwa Ramadan merupakan laboratorium etika yang paling autentik. Puasa, dalam perspektif pedagogis, bukan hanya praktik ibadah ritual, tetapi latihan sistematis pengendalian diri, ketekunan, dan kejujuran. Nilai-nilai tersebut sejatinya adalah inti dari pendidikan karakter yang selama ini menjadi orientasi utama sekolah.

“Bulan suci telah tiba. Mari sambut Ramadan dengan hati yang senang, jiwa yang tenang, dan niat yang tulus untuk memperbaiki diri.” Pesan ini bukan sekadar ajakan normatif, melainkan formulasi filosofis yang menempatkan transformasi diri sebagai prasyarat kemajuan kolektif.

Secara akademik, Ramadan menghadirkan dimensi self-regulated learning, kemampuan individu mengelola waktu, mengontrol dorongan, serta menjaga konsistensi dalam menjalankan komitmen. Disiplin sahur dan berbuka, keteraturan ibadah, serta penguatan empati sosial melalui zakat dan sedekah, merupakan praktik konkret yang selaras dengan teori pendidikan modern tentang pembentukan integritas.

Di bawah kepemimpinan Mu’alim, M.Pd., SMAN Jogoroto memperlihatkan model kepemimpinan edukatif yang tidak memisahkan rasionalitas dan spiritualitas. Sekolah tidak hanya menjadi ruang transmisi pengetahuan, tetapi juga arena internalisasi nilai. Integritas akademik dibangun seiring dengan kedalaman iman; prestasi diraih tanpa mengabaikan akhlak.

Secara visual, publikasi yang dirilis memadukan simbol religius dengan identitas kelembagaan secara harmonis, sebuah komunikasi simbolik bahwa tradisi dan modernitas dapat berdampingan dalam satu kerangka pendidikan progresif.

Ramadan 1447 H di SMAN Jogoroto bukan sekadar pergantian kalender hijriah. Ia adalah momentum konsolidasi moral dan intelektual. Di tengah tantangan global yang menuntut daya saing tinggi, sekolah ini menegaskan satu hal mendasar: kecerdasan tanpa karakter adalah kekosongan, dan karakter tanpa ilmu adalah kerapuhan.

Dari Jogoroto, pesan itu mengalir jernih, bahwa pendidikan terbaik adalah yang mampu menautkan cahaya ilmu dengan kedalaman iman. (hambaAllah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *