Geliat Ekonomi Bangkalan TA 2026 Antara Target Kenaikan PAD, Pasar Sepi dan Rasa Tidak Dilibatkan.

Bangkalan, Media Pojok Nasional — Lelah karena beban tanggung jawab yang kian berat, sementara ruang untuk bicara justru menyempit. Seorang Kepala Pasar di Bangkalan akhirnya angkat suara. Bukan untuk mencari pembenaran, melainkan menyampaikan kegelisahan yang selama ini dipendam: kenaikan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) pasar yang diputuskan tanpa rembugan, tanpa dialog, tanpa melibatkan orang-orang yang paling memahami denyut pasar itu sendiri.

“Kalau pasar sepi, kepala pasar dianggap tidak mampu. Padahal sepinya pasar itu tidak bisa dinilai hitam-putih,” ujarnya lirih.

Ia mengaku pernah berada pada masa ketika kepala pasar benar-benar dilibatkan. Saat itu, setiap rencana dibicarakan bersama. Data lapangan, kondisi pedagang, hingga psikologi pasar menjadi bahan pertimbangan. Bahkan, ia kerap dicari karena dianggap memahami “rahasia-rahasia pasar” yang tidak tertulis di atas kertas.

Target PAD melonjak. Ada pasar yang naik hingga ratusan juta rupiah. Namun ironisnya, kenaikan itu tidak dibarengi dukungan anggaran operasional.

Ia menyebut setidaknya empat faktor utama yang menentukan tercapai atau tidaknya target PAD pasar: Ketertiban. Keamanan. Kebersihan dan Kenyamanan “Masalahnya, itu semua sekarang tidak ada anggarannya,” katanya tegas.

Keamanan tidak dianggarkan. Ketertiban harus diusahakan sendiri. Kebersihan sering menjadi beban personal. Sementara pengeluaran tidak terduga terus bermunculan.

Dalam kondisi seperti ini, ia menyebut posisi kepala pasar berada dalam dilema besar. “Polo ijo berat semua,” ucapnya, menggambarkan tekanan yang merata di seluruh pasar.

Yang paling mengusik bukan semata angka PAD, melainkan rasa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Ia mengaku siap membantu jika diminta, siap diajak rembug, siap menyumbangkan pengalaman dan data. Namun yang terjadi justru sebaliknya. “Saya baru dilibatkan kalau dibutuhkan. Padahal ilmunya pasar, saya tahu,” ujarnya.

Ia mengenang masa-masa ketika setiap persoalan selalu dibahas bersama, termasuk soal penempatan pedagang, penataan los, hingga rencana pengembangan pasar. Semua itu kini terasa jauh.

Kegelisahan itu bertambah ketika ia mengetahui pembangunan fasilitas pasar termasuk bangunan TPS3R senilai ratusan juta rupiah yang ternyata tidak pernah dikomunikasikan kepadanya. Padahal, menurutnya, ia memiliki data pedagang dan konsep penempatan agar bangunan tersebut bisa langsung dimanfaatkan.
“Bangunan ada, listrik tidak ada, mesin tidak ada. Tapi kalau tidak diarahkan, ya mubazir,” katanya dengan nada kecewa.

Ia mengaku malu. Bukan kepada publik, tapi kepada rekan-rekan lama yang dulu selalu melibatkan kepala pasar dalam setiap proyek.

Ia menegaskan, dirinya tidak menolak kenaikan PAD. Bahkan pernah mengusulkan peningkatan target dengan catatan ada strategi: promosi pasar, penataan, dan dukungan anggaran. Yang ia minta sederhana: duduk bersama, berbicara, dan saling mendengar.

“Kalau ditata dengan benar, insya Allah lancar. Tokoh masyarakat sudah mendukung, kepala desa mendukung. Tinggal kemauan untuk mengelola dengan hati,” ujarnya.

Di akhir perbincangan, ia menunduk sejenak. Nada suaranya melembut. “Pasar itu bukan cuma PAD. Di situ ada pedagang, ada keluarga, ada kehidupan. Kalau salah kelola, yang sakit bukan cuma angka, tapi orang-orangnya.” terangnya.

Sebuah suara dari balik hiruk-pikuk pasar tentang tanggung jawab, keterlibatan, dan harapan agar kebijakan tidak lagi lahir dari meja, tapi dari denyut kehidupan nyata.
(Anam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *