Bangkalan, Media Pojok Nasional — Pelaksanaan proyek irigasi di Desa Sepulu menjadi perhatian publik setelah muncul pertanyaan terkait penerapan standar keselamatan kerja dan transparansi proyek. Sorotan tersebut mencuat dalam dialog antara Anam Jurnalis dengan Kepala Desa Sepulu, Fais Imron, pada Selasa (07/01).
Dalam komunikasinya, Anam mengonfirmasikan ketiadaan papan informasi proyek serta belum lengkapnya atribut Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang digunakan para pekerja di lapangan. Menurutnya, pemasangan papan informasi dan penggunaan atribut K3 merupakan bagian dari ketentuan teknis yang lazim diterapkan dalam setiap proyek pembangunan sebagai bentuk transparansi sekaligus perlindungan pekerja.
Menanggapi hal itu, Kepala Desa Sepulu Fais Imron mengakui bahwa atribut K3 belum diterapkan secara menyeluruh. Ia menjelaskan, proyek tersebut dikerjakan oleh tukang lokal, sehingga kelengkapan atribut seperti helm dan rompi keselamatan belum tersedia.
Meski demikian, ia memastikan bahwa pekerja tetap menggunakan perlengkapan dasar seperti masker, sarung tangan, dan sepatu. “Untuk atribut K3 memang belum ada karena kami menggunakan tukang lokal. Tapi masker, sarung tangan, dan sepatu tetap dipakai,” ujar Fais Imron.
Lebih jauh, Fais Imron menunjukkan sikap terbuka dan progresif dengan meminta referensi regulasi terkait standar K3 agar ke depan pelaksanaan proyek desa dapat lebih tertib dan sesuai aturan. Ia juga mengaku masih mempelajari perbedaan antara K3 dan Sistem Manajemen K3 (SMK3) yang sempat ia temukan dalam beberapa dokumen.
“Izin pak, kalau berkenan mohon dikirimkan ketentuan proyek yang mengikuti standar K3. Saya cari-cari belum ketemu filenya, supaya ke depan kami bisa mengikuti standar tersebut,” ungkapnya.
Dialog tersebut mendapat apresiasi dari Syaiful Anam. Ia menilai langkah Kepala Desa Sepulu sebagai sikap positif, terlebih ketika pembahasan standar K3 ini akan dibawa ke forum akademik tingkat magister. Menurutnya, hal itu dapat meningkatkan literasi publik, khususnya masyarakat desa, tentang pentingnya keselamatan kerja dan akuntabilitas proyek.
Menutup dialog, Fais Imron menyampaikan komitmennya untuk mempelajari regulasi K3 bersama rekan-rekan organisasi dan membuka ruang diskusi lanjutan demi menjamin keselamatan pekerja serta meningkatkan kualitas pelaksanaan proyek di Desa Sepulu.
Langkah ini menjadi gambaran bahwa kritik publik yang disampaikan secara dialogis dapat berbuah pada kesadaran bersama, sekaligus mendorong tata kelola pembangunan desa yang lebih aman, transparan, dan berkelanjutan.
(red)
