
SIDOARJO, Media Pojok Nasional
Perhatian terhadap anak yatim menjadi salah satu bagian dari kehidupan sosial di Desa Terik, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo. Di lingkungan Pondok Pesantren Mardhotillah, Dusun Sumber, kepedulian tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk Kepala Desa Terik, Bakhrudin, S.Sos.
Bakhrudin diketahui memiliki anak asuh yatim di pesantren tersebut. Selain itu, ia turut mendukung berbagai kegiatan pendidikan, sosial, dan keagamaan yang diselenggarakan Mardhotillah. Keterlibatan ini menjadi bagian dari hubungan yang terjalin antara lembaga pendidikan keagamaan dan lingkungan pemerintahan desa.
Pondok Pesantren Mardhotillah sendiri memiliki perjalanan panjang. Dirintis Ustaz M. Maliki Muhadi bersama Ustazah Ida Fitria pada 2001 melalui kegiatan pengajian di rumah, lembaga tersebut berkembang hingga diresmikan sebagai pondok pesantren pada 4 Februari 2018.
Perkembangan Mardhotillah kemudian berlanjut melalui penyelenggaraan pendidikan formal di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren dan Pendidikan Mardhotillah, antara lain SMP Unggulan Mardhotillah dan SMK Mardhotillah Plus. Pendidikan agama, pembinaan akhlak, serta pengembangan keterampilan menjadi bagian dari kegiatan lembaga tersebut.
Di tengah aktivitas pendidikan itu, perhatian terhadap anak yatim memiliki persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar pemberian bantuan. Keberlanjutan pendidikan, pengasuhan, dan lingkungan yang mendukung perkembangan anak merupakan kebutuhan yang memerlukan keterlibatan berbagai pihak.
Keterlibatan Bakhrudin sebagai orang tua asuh menjadi salah satu bentuk partisipasi tersebut. Adapun dukungannya terhadap kegiatan pesantren memperlihatkan adanya hubungan sosial antara pemerintah desa dan lembaga keagamaan yang tumbuh di tengah masyarakat.
Persoalan ini sekaligus memperlihatkan pentingnya membedakan kepedulian pribadi dengan tanggung jawab pemerintahan. Dukungan dalam kapasitas jabatan publik tetap harus dijalankan sesuai kewenangan dan prinsip pelayanan yang setara, sedangkan pengasuhan anak yatim merupakan bentuk tanggung jawab sosial yang dapat dilakukan siapa pun.
Dalam konteks kehidupan desa, keberadaan pesantren memiliki peran yang tidak terbatas pada pendidikan agama. Lembaga semacam ini juga menjadi ruang pembinaan karakter, kegiatan kemasyarakatan, dan penguatan solidaritas sosial.
Di Mardhotillah, nilai tersebut tercermin dalam falsafah Jawa urip iku urup, yang mengandung makna bahwa kehidupan seseorang sepatutnya memberikan manfaat bagi orang lain.
Hubungan antara pesantren, masyarakat, dan pemerintah desa pada akhirnya memiliki kepentingan yang sama dalam mendukung lingkungan pendidikan dan kehidupan sosial yang lebih baik. Namun, manfaat hubungan tersebut perlu dilihat dari kegiatan nyata dan keberlanjutannya, bukan semata dari kedekatan kelembagaan.
Bagi anak-anak yatim, perhatian yang berkesinambungan menjadi hal penting. Pendidikan dan pendampingan yang terjaga memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan serta merencanakan masa depan.
Di tengah hubungan sosial yang terbangun di Desa Terik, keberlanjutan perhatian terhadap anak yatim menjadi ukuran penting: sejauh mana kepedulian masyarakat dapat diterjemahkan menjadi dukungan nyata bagi pendidikan dan pengasuhan mereka.(Ayyubi)
