Rumah Tanpa Atap, Pejabat Tutup Mata: Tidak Tahu atau Pura-Pura Tidak Tahu..?

SIDOARJO, Media Pojok Nasional – Lihatlah bangunan ini. Atapnya hilang, terpal robek tak mampu menahan air hujan. Dinding retak merambat, lantai tanah selalu becek. Saat hujan turun, air masuk ke mana-mana, ibu janda berusia 50 tahun ini dan anaknya yang masih sekolah terpaksa basah kuyup berpindah-pindah mencari sudut yang kering, yang tidak ada. Saat matahari terik, panas membakar tanpa penghalang, udara di dalam seperti tungku. Ini bukan rumah. Ini tempat bertahan hidup di bawah tekanan alam setiap hari.

Dan di sinilah pertanyaan yang menusuk sampai ke tulang: kok pejabatnya tidak tahu..? Atau sebenarnya sudah tahu, lalu pura-pura tidak tahu…?

Yang mana pun jawabannya, satu hal sudah pasti: matanya tertutup karena tidak melihat, atau  karena sengaja menutup mata. Keduanya sama saja. Keduanya sama-sama berarti gagal.

PJ Kepala Desa Mliriprowo maupun kasun, wargamu sendiri. Rumah ini ada di wilayahmu, tidak tersembunyi, tidak jauh. Kalau sampai hari ini anda bilang tidak tahu, berarti kamu buta mata bathinmu melihat apa yang ada di depan mata dan hidungmu sendiri. Kalau sebenarnya sudah tahu tapi diam saja, berarti matamu tertutup karena ketidak ada kepedulian yang membutakan mata dan bathinmu Lalu kerjamu apa setiap hari..? Menandatangani surat? Menerima tamu? Atau sekadar menunggu gaji datang? Kalau tidak tahu kondisi wargamu, untuk apa kamu menjabat.?

Camat Tarik, anda yang seharusnya menerima laporan, memantau, mengetahui segala hal yang terjadi di wilayahmu. Kalau tidak tahu, berarti seluruh sistem di bawahmu mati total dan anda tidak sadar — itu kelalaian. Kalau tahu tapi tidak bertindak, berarti anda sengaja membiarkan penderitaan berlanjut — itu kelalaian yang lebih parah. Kerjamu apa sebenarnya? Duduk di ruangan ber-AC sampai sore? Lalu pulang dengan tenang sementara ibu ini tidur dalam kedinginan?

Anggota DPRD Sidoarjo, kalian yang menyebutkan diri sebagai wakil rakyat. Kalian berkeliling, mendengar aspirasi, menyusun anggaran. Bagaimana mungkin kondisi sejelas ini luput dari perhatian kalian? Apakah kalian hanya melihat mereka yang bisa datang ke kantor, yang punya suara dan koneksi? Kalau tidak tahu, kalian tutup mata Kalau tahu tapi diam, kalian lebih menutup mata lagi, karena hati kalian sudah ikut butakan.

Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo, kalian memegang kendali tertinggi. Menerima laporan bertingkat, memimpin ribuan pegawai, berkeliling dengan mobil dinas mewah ber-AC. Kalau tidak tahu ada rakyat yang hidup seperti ini, berarti ada yang sangat rusak dalam cara kalian memimpin, mata kalian picek terhadap realita. Kalau tahu tapi tidak bertindak, berarti kemewahan yang kalian nikmati sudah menutup pandangan kalian sampai tidak bisa lagi melihat penderitaan orang kecil. Itu bukan sekadar tutup mata, itu buta hati nuranimu.

Tidak ada jawaban yang baik di sini. Tidak tahu = . Atau tahu tapi pura-pura tidak tahu = lebih menutup lagi. Dan yang paling menyakitkan: dalam kedua kasus, penderitaan ibu ini dan anaknya tetap berlanjut. Hari ini. Besok. Sampai kapan?

Mereka tidak butuh janji. Mereka butuh atap. Sekarang. Dan kalian, siapa pun yang duduk di kursi kekuasaan, jangan lagi berpura-pura tidak tahu. Karena tahu atau tidak tahu, pura-pura atau jujur, satu hal sudah jelas: matamu tertutup. Dan itu adalah kegagalan terbesar seorang pejabat.

Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *