BANGKALAN, Media Pojok Nasional — Prestasi tidak lahir secara tiba-tiba. Di balik keberhasilan siswa menembus kompetisi hingga tingkat nasional, terdapat proses panjang yang dimulai dari bagaimana sekolah mengenali potensi, membina bakat, hingga menjaga keseimbangan antara prestasi dan pendidikan akademik.
Hal itu pula yang terus dibangun SMPN 2 Bangkalan, sekolah yang selama ini lekat dengan reputasi sebagai “Sekolah Para Juara”.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMPN 2 Bangkalan, Endang Hasdriati, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa proses penjaringan bakat dilakukan sejak siswa pertama kali masuk sekolah.
“Penjaringan bakat dimulai saat baru pertama masuk, biasanya lewat jalur prestasi. Ketika sudah masuk, kita petakan lagi,” ungkap Endang.
Pemetaan tersebut kemudian disesuaikan dengan bidang keunggulan masing-masing siswa. Mereka yang memiliki prestasi olahraga diarahkan ke kelas atlet, sedangkan potensi di bidang seni dan bidang lainnya dikembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler.
Pembinaan Diperkuat Setelah Lolos Kabupaten
Menurut Endang, pembinaan semakin intensif ketika siswa berhasil melewati kompetisi tingkat kabupaten. Sekolah tidak hanya mengandalkan tenaga pendidik internal, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dengan orang tua serta pihak luar yang memiliki kompetensi sesuai bidang yang ditekuni siswa.
“Ketika sudah lolos ajang kabupaten, kita beri pembinaan khusus. Di sini kita sudah melibatkan orang tua siswa atau pihak luar yang lebih kompeten untuk latihan intensif,” jelasnya.
Pola pembinaan tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan siswa menghadapi kompetisi pada level yang lebih tinggi.
Namun, sekolah menyadari bahwa mengejar prestasi tidak boleh membuat siswa kehilangan haknya untuk mendapatkan pembelajaran secara utuh.
Latihan Jalan, Akademik Tetap Dijaga
Endang menuturkan, ketika agenda latihan bertepatan dengan kegiatan belajar mengajar, pihak sekolah memberikan dispensasi khusus kepada siswa yang sedang menjalani persiapan kompetisi.
Mereka tetap mendapatkan materi pembelajaran melalui sistem daring maupun penugasan.
“Jika kegiatan latihan bersamaan dengan kegiatan akademik, kami memberi dispensasi khusus untuk mengikuti pembelajaran baik dengan online atau sistem penugasan, sehingga latihan tetap jalan, pembelajaran pun tetap jalan,” tuturnya.
Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa prestasi dan akademik tidak ditempatkan sebagai dua hal yang harus dipertentangkan.
Bagi SMPN 2 Bangkalan, siswa berprestasi tetap harus tumbuh sebagai pelajar yang memiliki fondasi akademik.
Endang: Saya Hanya Menjalankan Tugas
Di tengah perhatian Pemerintah Kabupaten Bangkalan terhadap SMPN 2 Bangkalan, termasuk sorotan langsung dari pimpinan daerah, Endang justru menyikapinya dengan rendah hati.
“Saya hanya Plt, hanya menjalankan tugas. Mudah-mudahan hasilnya baik,” katanya.
Ia juga berharap perhatian yang diberikan pemerintah daerah terhadap sekolah dapat membawa dampak positif bagi perkembangan siswa dan lembaga pendidikan.
“Mudah-mudahan yang baik-baik,” ucapnya.
Bagi Endang, keberhasilan sekolah bukan hanya persoalan banyaknya penghargaan yang berhasil dibawa pulang. Lebih jauh, keberhasilan itu adalah ketika sekolah mampu menemukan potensi setiap anak, memberikan ruang untuk berkembang dan tetap memastikan pendidikan mereka berjalan.
Dari ruang kelas, lapangan latihan hingga panggung kompetisi, SMPN 2 Bangkalan berupaya menjaga satu prinsip: mencetak juara tanpa mengorbankan proses belajar.
Sebab, bagi sekolah yang menyandang predikat “Sekolah Para Juara”, piala hanyalah hasil akhir. Yang jauh lebih penting adalah proses panjang dalam membentuk anak-anak menjadi pribadi yang berprestasi, berkarakter dan tetap memiliki fondasi pendidikan yang kuat.
