SURABAYA, Media Pojok Nasional – Ada jenis angka yang tidak berisik. Ia tidak berteriak, tidak memukul meja, bahkan tidak perlu pidato panjang. Ia hanya duduk di sebuah tabel, dingin dan sopan, lalu menunggu seseorang cukup berani untuk membacanya.
Angka itu bernama Tracer Study.
Dalam infografik Data Partisipasi Tracer Study 2025, Jawa Timur tercatat berada di peringkat ke-18 dari 38 provinsi dengan 221.174 alumni sebagai target dan 195.414 alumni selesai mengisi, atau tingkat partisipasi 88,36 persen.
Tidak buruk. Tetapi juga belum cukup untuk pesta kembang api.
Sebab di atas Jawa Timur masih ada 17 provinsi. DKI Jakarta berada di posisi pertama dengan partisipasi 99,62 persen; Kepulauan Bangka Belitung 99,48 persen; Kalimantan Utara 99,33 persen; Sumatera Barat 98,38 persen; Kalimantan Selatan 97,91 persen; Sulawesi Utara 97,55 persen; Bali 96,69 persen; Jambi 95,35 persen; Kalimantan Tengah 93,15 persen; Sumatera Utara 92,78 persen; Sulawesi Selatan 92,65 persen; Nusa Tenggara Timur 91,75 persen; Jawa Tengah 91,74 persen; Riau 89,84 persen; Aceh 89 persen; DI Yogyakarta 88,82 persen; dan Kepulauan Riau 88,71 persen.
Jawa Timur, dengan 88,36 persen, bahkan hanya terpaut tipis dari Kepulauan Riau. Di bawahnya ada Sulawesi Tengah 87,64 persen, Bengkulu 87,16 persen, Sulawesi Tenggara 85,71 persen, Gorontalo 83,03 persen, Papua Selatan 82,78 persen, Banten 82,72 persen, Papua 81,87 persen, Papua Barat 81,67 persen, Sumatera Selatan 81,32 persen, Kalimantan Barat 80,85 persen, Maluku 79,53 persen, Lampung 79,45 persen, Nusa Tenggara Barat 78,45 persen, Jawa Barat 76,33 persen, Kalimantan Timur 76,17 persen, Sulawesi Barat 73,71 persen, Papua Barat Daya 58,48 persen, Maluku Utara 53,38 persen, Papua Tengah 25,44 persen, dan Papua Pegunungan 1,74 persen.
Begitulah tabel itu berbicara. Tidak dramatis. Justru karena itu ia lebih mengganggu.
Di Jawa Timur, Jarak Partisipasi Sangat Lebar, pada tingkat kabupaten dan kota, gambaran partisipasi memperlihatkan kesenjangan yang cukup mencolok.
Kabupaten Kediri dan Kota Mojokerto sama-sama mencapai 100 persen. Kabupaten Mojokerto menyusul dengan 99,60 persen, Kota Kediri 98,30 persen, dan Kabupaten Jember 96,41 persen. Kelima daerah itu menempati posisi partisipasi tertinggi di Jawa Timur.
Di bawahnya tercatat Kabupaten Jombang 96,10 persen, Kabupaten Tulungagung 95,28 persen, Kabupaten Lumajang 94,27 persen, Kota Blitar 93,27 persen, Kota Pasuruan 92,23 persen, Kota Malang 91,42 persen, Kabupaten Blitar 91,30 persen, Kota Surabaya 90,42 persen, Kota Batu 89,53 persen, Kabupaten Madiun 89,12 persen, Kabupaten Banyuwangi 88,51 persen, Kota Madiun 86,79 persen, dan Kabupaten Lamongan 86,60 persen.
Angka partisipasi kemudian menurun tajam. Kabupaten Tuban tercatat 85,93 persen, Kabupaten Nganjuk 84,25 persen, Kabupaten Magetan 83,23 persen, Kabupaten Pacitan 83,14 persen, Kabupaten Ponorogo 81,72 persen, Kabupaten Malang 81,69 persen, Kabupaten Pasuruan 81,05 persen, Kabupaten Bojonegoro 80,70 persen, Kabupaten Bondowoso 80,35 persen, Kabupaten Gresik 79,40 persen, Kabupaten Trenggalek 77,14 persen, Kabupaten Sidoarjo 74,82 persen, Kabupaten Ngawi 72,09 persen, Kabupaten Situbondo 71,93 persen, Kota Probolinggo 71,83 persen, Kabupaten Bangkalan 60,54 persen, Kabupaten Probolinggo 50,19 persen, Kabupaten Pamekasan 46,90 persen, Kabupaten Sumenep 45,06 persen, dan Kabupaten Sampang 44,69 persen.
Angka-angka itu bukan sekadar deretan data. Portal resmi Tracer Study Pendidikan Vokasi menjelaskan bahwa tracer study digunakan untuk mengetahui aktivitas lulusan, bekerja, berwirausaha, atau melanjutkan pendidikan, sekaligus melihat keselarasan dan kepuasan dunia kerja terhadap lulusan. Data tersebut dimaksudkan menjadi bagian dari penjaminan mutu pendidikan vokasi.
Dengan kata lain, ini bukan sekadar lomba mengumpulkan tanggapan. Ini adalah upaya mencari tahu apakah lulusan SMK benar-benar mendarat di dunia yang selama bertahun-tahun dijanjikan kepada mereka: dunia kerja.
Infografik kampanye Tracer Study 2026 menyampaikan pesan: “JAWA TIMUR BISA LEBIH HEBAT!” Jawa Timur didorong untuk meningkatkan partisipasi agar dapat naik peringkat dan masuk dalam sepuluh besar nasional.
Tercantum pula pesan: “Partisipasi Anda hari ini menentukan masa depan vokasi Indonesia.” Semakin banyak alumni berpartisipasi, semakin lengkap data yang terkumpul. Data yang semakin lengkap memungkinkan kebijakan yang disusun menjadi lebih tepat sasaran.
Peningkatan partisipasi diarahkan melalui peran masing-masing pihak. Kepala Sekolah diminta mendorong alumni berpartisipasi dan memastikan kelengkapan data. Bursa Kerja Khusus (BKK) bertugas menyebarkan informasi serta memantau pengisian tracer study. Alumni diharapkan memberikan tanggapan karena informasi yang disampaikan menjadi bahan perbaikan pendidikan. Sementara itu, dunia industri diminta menyampaikan kebutuhan kompetensi dan evaluasi agar lulusan yang dihasilkan semakin sesuai kebutuhan lapangan kerja.
Portal resmi Kemendikdasmen menempatkan tracer study sebagai instrumen untuk memperoleh umpan balik lulusan dan dunia industri mengenai kesesuaian kompetensi dan pembelajaran dengan kebutuhan kerja.
Pertanyaan mendasar yang muncul dari data tersebut sederhana: setelah lulus, ke mana mereka melangkah? Apakah bekerja? Apakah sesuai keahlian? Apakah melanjutkan pendidikan? Apakah kebutuhan industri terpenuhi? Dan apakah pendidikan yang diterima di sekolah masih relevan?
Karena itu, data bukan sekadar angka. Data adalah cermin. Dan cermin, seperti biasa, memperlihatkan apa adanya.
Angka partisipasi 88,36 persen pada 2025 bukanlah garis akhir. Jika target masuk sepuluh besar nasional pada 2026 ingin dicapai, maka sekolah, BKK, alumni, industri, dan pemerintah perlu bergerak bersama. Data yang terkumpul perlu diolah menjadi kebijakan nyata, bukan sekadar tersimpan di sistem.
Tracer study baru benar-benar bermanfaat ketika temuannya kembali masuk ke ruang kelas, menyempurnakan kurikulum, memperkuat hubungan dengan dunia usaha, dan akhirnya terasa pada kesiapan lulusan melangkah ke masa depan.
Jawa Timur telah menerima tanggapan dari 195.414 alumni pada tahun 2025. Kini tantangannya bukan sekadar memperbesar angka partisipasi, melainkan menjadikan data tersebut benar-benar bermanfaat.
Pertanyaan akhirnya sederhana: apakah seluruh ekosistem pendidikan vokasi Jawa Timur siap mendengarkan apa yang dikatakan para lulusannya? Karena pada akhirnya, tracer study bukan sekadar soal pengisian formulir. Ia tentang masa depan mereka yang pernah disebut lulusan SMK. (Ayyubi).
