Lamongan, Media Pojok Nasional –
Di SMP Negeri 1 Turi Lamongan, Hari Buruh Internasional tidak diperlakukan sebagai panggung seremoni. Ia diubah menjadi ruang belajar yang hidup, tempat siswa menautkan pengetahuan dengan makna kerja, martabat, dan tanggung jawab sosial.
Sejak pagi, ruang-ruang kelas diisi percakapan yang tidak biasa. Bukan sekadar definisi, melainkan penelusuran: mengapa kerja harus dihargai, bagaimana keadilan dijaga, dan apa arti menjadi manusia yang bermanfaat. Guru memandu, siswa bertanya, dan pengalaman sehari-hari dijadikan bahan baku pembelajaran.
Di tengah alur itu, kepemimpinan Harto memberi arah yang khas. Ia membawa perspektif yang ditempa dari dunia pendidikan sekaligus tradisi pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate, sebuah khazanah nilai yang berakar kuat di Madiun.
“Kerja itu bukan hanya soal hasil, tetapi soal cara, jujur, tekun, dan bertanggung jawab,” ujar Harto. Kalimatnya singkat, namun memuat garis besar yang kemudian diterjemahkan guru dalam berbagai pendekatan: studi kasus sederhana, refleksi pribadi, hingga diskusi lintas mata pelajaran.
Nuansa Setia Hati hadir tanpa atribut berlebihan, melainkan melalui gagasan. Prinsip berbudi luhur, tahu benar dan salah diposisikan sebagai fondasi etos kerja. Siswa diajak melihat bahwa kekuatan tidak diukur dari dominasi, melainkan dari kemampuan menahan diri, menghormati orang lain, dan konsisten pada kebenaran. Dalam bahasa pendidikan, ini adalah integritas; dalam laku PSHT, ini adalah jalan hidup.
Pendekatan ini menghasilkan ritme yang berbeda. Tidak ada hiruk-pikuk perayaan, tetapi ada kedalaman. Siswa menyusun pemahaman mereka sendiri tentang profesi, dari petani hingga tenaga kesehatan, dan mengaitkannya dengan kontribusi nyata bagi masyarakat. Di titik ini, Hari Buruh bergeser dari peringatan menjadi pengalaman belajar yang membentuk perspektif.
Para pendidik melihatnya sebagai strategi yang relevan. Mengaitkan kurikulum dengan nilai lokal membuat materi terasa dekat, sekaligus menegaskan bahwa pendidikan karakter bukan tambahan, melainkan inti. “Anak-anak tidak hanya tahu, tapi mengerti,” kata seorang guru.
Apa yang terjadi di Turi menunjukkan satu hal: sekolah bisa menjadi ruang yang menyalakan kesadaran, bukan sekadar menyampaikan informasi. Ketika etos kerja diajarkan bersama nilai persaudaraan, lahir generasi yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap menjaga kemanusiaan.
Di sini, Hari Buruh tidak berakhir pada tanggal. Ia berlanjut sebagai laku, dipelajari, dipraktikkan, dan dirawat, dengan napas persaudaraan yang mengalir dari Madiun ke ruang-ruang kelas.
Red.
