Panen Padi Ketiga di Tunjung Burneh Bangkalan Jadi Kejutan Saat Desa Sebelah Sedang Musim Tanam

Bangkalan, Media Pojok Nasional — Fenomena tidak lazim terjadi di Desa Tunjung, Kecamatan Burneh, Bangkalan. Ketika sebagian besar wilayah Bangkalan baru memasuki masa tanam, Tunjung sudah memasuki panen ketiga dalam satu tahun. Fakta ini memantik sejumlah pertanyaan investigatif: Apa yang sebenarnya terjadi di balik keberhasilan tiga kali musim tanam? Bagaimana manajemen irigasi, pengendalian hama, hingga suplai pupuk bisa berjalan di saat desa lain justru kesulitan?.

Dari total potensi 1.800 hektare lahan, sejauh ini baru 100 hektare yang berhasil mencapai MT3 (Musim Tanam Ketiga). Padahal secara teknis, menanam tiga kali setahun dianggap mustahil bagi sebagian besar petani di Bangkalan terutama di musim kemarau.

Namun Kepala Bidang Sarpras Dinas Pertanian Bangkalan, Dr. CHK Karyadinata SPTME, menegaskan bahwa apa yang terjadi di Tunjung adalah kombinasi “keberanian petani” dan “pengelolaan irigasi yang tidak biasa.”

“Menanam di musim kemarau bagi sebagian petani dianggap di luar nalar. Tapi di sini mereka berani. Air cukup, pompa cadangan siap, dan kelompok tani mampu meyakinkan anggotanya,” ungkapnya.

Investigasi di lapangan menunjukkan bahwa sistem irigasi di Tunjung bukan murni fasilitas pemerintah, tetapi hasil gotong royong masyarakat yang mengalirkan air dari sumber terdekat tanpa pompa. Dinas pertanian hanya menyediakan pompa cadangan untuk jaga-jaga jika pasokan air melemah.

Mengapa model swadaya yang terbukti efektif ini tidak direplikasi di desa lain?, Apakah ada hambatan administratif atau teknis dalam replikasi sistem irigasi tersebut?

Dalam investigasi, ditemukan bahwa ancaman terbesar bukanlah air, tetapi hama burung dan tikus. Sistem pertahanan yang dilakukan petani Tunjung tergolong ekstrem: Pemasangan jaring di atas tanaman. Penjagaan burung dari pagi hingga sore. Penggunaan trompet dan bunyi-bunyian. Penambahan jaga malam di masa rawan. Padahal di desa lain, pengendalian hama sering menjadi alasan kegagalan panen di luar musim hujan.

Pada momen itu H Halik Ketua Kelompok Tani (Poktan) Ngarokse tane II yang merupakan tokoh penggerak, menyatakan: “Satu hektare butuh tiga sak kemudian juga butuh jaring agar aman dari burung. Berat, tapi dengan gabah Rp 7.500/kg, petani masih untung.” terangnya.

Dinas pertanian mengakui bahwa kenaikan harga gabah menjadi Rp 7.500/kg bukan karena kualitas tinggi, melainkan akibat minimnya stok gabah di pasaran. Fenomena kelangkaan ini seharusnya menjadi peringatan tentang krisis cadangan pangan lokal.

Dengan produktivitas 6 ton/ha, petani berpotensi mengantongi Rp45 juta per hektare. Namun itu baru berlaku untuk wilayah yang mampu panen tiga kali.

Mengapa Daerah Lain Tidak Bisa Meniru Tunjung? beberapa temuan lapangan menyatakan bahwa hingga kini kemauan petani menjadi faktor terbesar banyak petani daerah lain enggan menanam di musim kemarau. Kemudian melompok tani di Tunjung aktif menggerakkan sosialiasi, metode ketuk-tular, hingga pelatihan intensif. Yang tidak kalah penting juga adanya konsistensi pengawalan Dinas Pertanian sangat intens, berbeda dari pola lama.

“Dulu dinas sulit ditemui. Sekarang tiap hari disurvei. Tidak hanya duduk di meja.” ujarnya

Ini memunculkan dugaan adanya perubahan kultur birokrasi yang signifikan di Dinas Pertanian. Bantuan Alsintan Dikelola Melalui Brigade Kodim: Transparan atau Rawat Potensi Masalah?

Dalam investigasi terungkap bahwa: Alat pertanian bukan diberikan kepada petani. Seluruhnya dikelola Brigade Kodim dan perpindahan alat harus izin Koramil. Ini membuka dua sisi:

Positif: alat tidak mangkrak di satu tempat. Negatif: potensi antrian, ketergantungan, atau disparitas antar kelompok tani. Perlu monitoring lebih dalam untuk memastikan distribusi alat berjalan adil. PR Besar 2026: Bangkalan Harus Mampu Swasembada Beras.

Bupati Bangkalan menugaskan Dinas Pertanian agar pada 2026 Bangkalan bisa memenuhi kebutuhan beras lokal sendiri. Namun fakta lapangan menunjukkan: Potensi MT3 baru 100 hektare dari target minimal 800–900 hektare.

Irigasi tersier masih banyak rusak.Petani membutuhkan pabrik penggilingan sendiri untuk nilai tambah.

“Kami sudah sampaikan kebutuhan penggilingan ke pemerintah. Bupati sudah tanggapi, dinas sudah survei. Tinggal realisasi.”

Ancaman Alih Fungsi Lahan: Dinas Sebut Tidak Perlu Khawatir, Benarkah? Ketika ditanya ancaman pembangunan perumahan di sekitar lahan pertanian, dinas menyebut: “Sudah dihitung bersama dengan PU, tidak perlu dikhawatirkan.”

Namun keterangan ini perlu pendalaman karena alih fungsi lahan adalah faktor utama penyebab gagal MT3 di banyak daerah.

Kesimpulan Investigasi Sementara menuliskan Fenomena panen ketiga di Tunjung bukanlah keberuntungan musiman, melainkan kombinasi: Irigasi swadaya yang terorganisir. Keberanian petani menanam di musim kemarau
Pengendalian hama tingkat tinggi. Pengawalan intensif dari Dinas Pertanian. Harga gabah yang sedang tinggi akibat kelangkaan. Namun masih banyak pertanyaan yang perlu ditindaklanjuti:

  1. Mengapa sistem Tunjung tidak diterapkan masif di Bangkalan?
  2. Apakah ketergantungan pada brigade alat pertanian justru menghambat distribusi?
  3. Sejauh mana kesiapan pemerintah memenuhi target swasembada 2026?
  4. Benarkah alih fungsi lahan “tidak berbahaya”, atau ada data yang belum dibuka ke publik?

Tunjung telah membuktikan bahwa panen tiga kali bukan mitos. Yang kini harus diusut adalah siapa yang bertanggung jawab jika daerah lain gagal meniru keberhasilan ini.
(Anam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *