Malang, Media Pojok Nasional –
Di tengah dinamika pembangunan daerah, Desa Wonokerso, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, tampil sebagai salah satu contoh nyata transformasi desa yang bergerak maju dengan inovasi, transparansi, dan keberpihakan pada kesejahteraan warga.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Nariyadi, Wonokerso tidak hanya membangun infrastruktur dasar, tetapi juga merintis terobosan yang menghubungkan desa dengan wacana global: pertanian cerdas, wisata berbasis budaya, dan penguatan tata kelola pemerintahan yang akuntabel.
Pada April 2025, proyek drainase senilai hampir setengah miliar rupiah rampung dikerjakan, mengakhiri persoalan genangan air yang selama bertahun-tahun merusak jalan desa. Namun, pembangunan fisik hanyalah satu sisi dari wajah Wonokerso.
Lebih dari itu, desa ini menjadi tuan rumah pengembangan Smart Greenhouse, teknologi pertanian modern dengan sistem Tower Hydroponics System (THS) yang diinisiasi bersama Universitas Negeri Malang. Dengan dua unit greenhouse yang kini beroperasi, Wonokerso menempatkan diri sebagai laboratorium hidup bagi petani muda, sekaligus langkah awal menuju kemandirian pangan berbasis teknologi.
Posisi strategis Wonokerso di jalur Malang–Kepanjen mendorong lahirnya gagasan besar: menjadikan desa ini sebagai rest area terpadu dengan sentuhan kearifan lokal. Rencana masterplan meliputi taman rekreasi, gazebo, hingga fasilitas kuliner khas desa, sehingga pelancong tidak sekadar singgah, melainkan juga menikmati keindahan alam dan produk lokal Wonokerso.
Walau kendala dana masih menjadi tantangan, gagasan ini telah menarik perhatian banyak pihak. Wonokerso pun mulai dikenal sebagai desa dengan visi wisata berbasis cultural-tourism yang berorientasi pada keberlanjutan.
Kepala Desa Nariyadi menegaskan bahwa pembangunan fisik tak akan berarti tanpa fondasi tata kelola yang bersih. Tahun ini, Wonokerso mendapat apresiasi di tingkat nasional karena memperkuat transparansi layanan publik, termasuk digitalisasi informasi desa yang bisa diakses warga secara terbuka.
“Desa harus menjadi rumah keterbukaan, di mana masyarakat merasa dilibatkan, bukan hanya menjadi penonton,” ujar Nariyadi dalam salah satu forum kajian banding desa.
Dengan drainase yang kokoh, greenhouse yang futuristik, dan rest area yang sedang dipersiapkan, Wonokerso menempatkan dirinya di persimpangan penting: dari desa agraris tradisional menuju desa modern yang menggabungkan teknologi, budaya, dan pariwisata.
Tantangan memang masih ada, mulai dari pendanaan berkelanjutan hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Namun, langkah-langkah inovatif yang sudah diambil memberi sinyal kuat: Wonokerso sedang membangun masa depan dengan pijakan yang kokoh. (hamba Allah).
