Sentral Wisata Kuliner (SWK) Kecamatan Wiyung Surabaya Kian Sepi, Diduga Dipicu Sikap Pedagang Stand yang Kurang Ramah Terhadap Pengunjung

Surabaya, Media Pojok Nasional – 7 Januari 2026. Kondisi Sentral Wisata Kuliner (SWK) Kecamatan Wiyung, Kota Surabaya, saat ini menjadi sorotan masyarakat. Pusat kuliner yang semula diharapkan menjadi ikon pemberdayaan UMKM dan ruang berkumpul warga, kini tampak lengang dan jauh dari suasana ramai. Penurunan jumlah pengunjung ini diduga bukan hanya disebabkan faktor ekonomi, namun juga menurunnya kenyamanan akibat perilaku pelayanan salah satu pedagang stand.

Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah meja terlihat kosong meskipun berada di jam-jam makan. Beberapa stand tampak sepi pembeli, sementara sebagian pengunjung memilih tidak berlama-lama di area SWK. Dari berbagai keterangan yang dihimpun, muncul keluhan mengenai sikap seorang pedagang stand berinisial Anita, yang dinilai kurang ramah dan mudah terpancing emosi saat berinteraksi dengan pelanggan.

Sejumlah pengunjung mengaku mengalami pengalaman kurang menyenangkan saat berada di SWK Wiyung. Mereka menyebut pedagang berinisial Anita sering menjawab pertanyaan pelanggan dengan nada tinggi dan ekspresi tidak bersahabat, bahkan dalam situasi yang dinilai sepele.

“Baru bertanya menu dan tempat duduk, tapi sudah dijawab dengan nada keras. Kami jadi tidak nyaman,” ujar salah satu pengunjung.

Beberapa pengunjung lain juga menyampaikan bahwa mereka merasa seperti sedang dimarahi di tempat umum, sehingga memilih meninggalkan lokasi dan tidak kembali lagi ke SWK Wiyung.

Keluhan lain yang mencuat adalah dugaan tindakan memindahkan atau “memetak-metakkan” meja dan kursi pengunjung secara sepihak. Menurut pengakuan pelanggan, meja yang sudah mereka gunakan tiba-tiba diminta untuk dipindah tanpa penjelasan yang baik dan sopan.

Tindakan tersebut membuat pengunjung merasa tidak dihargai sebagai konsumen, terlebih karena SWK merupakan fasilitas publik yang seharusnya dapat dinikmati bersama oleh seluruh masyarakat.

Tidak hanya pengunjung, pedagang lain di sekitar stand tersebut juga turut memberikan keterangan. Salah satu pedagang yang berjualan tepat di sebelah stand berinisial Anita mengakui bahwa sikap mudah marah tersebut memang sering terlihat dalam aktivitas sehari-hari.

“Memang sering terlihat emosinya tinggi, terutama kalau sedang ramai. Kadang pengunjung cuma tanya-tanya, tapi sudah dijawab dengan nada marah,” ujar pedagang tersebut saat ditemui di lokasi.

Pedagang tersebut menambahkan bahwa sikap tersebut kerap membuat pengunjung merasa tidak nyaman, bahkan ada yang langsung pergi sebelum sempat memesan makanan. Menurutnya, kondisi ini berdampak pada pedagang lain karena pengunjung cenderung menilai suasana SWK secara keseluruhan.

“Pengunjung itu tidak tahu siapa salah siapa benar. Yang mereka lihat, SWK-nya tidak nyaman, akhirnya tidak mau datang lagi,” tambahnya.

Akibat kondisi tersebut, sejumlah pedagang mengaku mengalami penurunan omzet. Mereka menilai, perilaku satu oknum pedagang dapat memengaruhi citra seluruh kawasan SWK. Pedagang lain berharap ada pembinaan dan penegakan aturan agar suasana berdagang tetap kondusif.

“Kami di sini sama-sama cari makan. Kalau satu orang membuat suasana panas, yang lain ikut rugi,” ungkap seorang pedagang.

Sebagai informasi, Sentral Wisata Kuliner merupakan program Pemerintah Kota Surabaya yang bertujuan menata pedagang kaki lima, meningkatkan kualitas UMKM, serta menyediakan ruang kuliner yang bersih, tertib, dan ramah bagi masyarakat. Oleh karena itu, etika pelayanan dan sikap profesional menjadi unsur penting dalam menjaga keberlangsungan program tersebut.

Warga sekitar, pengunjung, serta pedagang lain berharap pihak pengelola SWK Wiyung dan instansi terkait dapat segera melakukan evaluasi menyeluruh. Pembinaan sikap pelayanan, komunikasi antar pedagang, serta penegasan aturan penggunaan area umum dinilai sangat diperlukan.

Masyarakat berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara bijak agar tidak berlarut-larut dan merugikan banyak pihak. Dengan perbaikan sikap dan pengelolaan yang lebih baik, SWK Wiyung diharapkan dapat kembali ramai dan menjadi destinasi kuliner yang nyaman bagi semua kalangan

Sepinya SWK Kecamatan Wiyung menjadi pengingat bahwa keberhasilan pusat kuliner tidak hanya ditentukan oleh rasa makanan, tetapi juga oleh keramahan pelayanan. Tanpa kenyamanan dan sikap saling menghargai, kehadiran pengunjung akan terus menurun dan tujuan SWK sebagai penggerak ekonomi kerakyatan sulit tercapai.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *