Gresik, Media Pojok Nasional – Ketahanan pangan desa bukanlah hasil dari kebijakan instan, melainkan buah dari proses panjang yang dibangun melalui pembelajaran, perencanaan, dan keberanian membuka diri terhadap praktik terbaik.
Rekam jejak seperti inilah yang terlihat dalam arah pembangunan Pemerintah Desa Bulurejo, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Imam Shofwan, pertanian ditempatkan sebagai sektor strategis desa, bukan hanya sebagai mata pencaharian warga, tetapi sebagai fondasi kemandirian ekonomi dan ketahanan sosial masyarakat.

Jejak penguatan ketahanan pangan tersebut telah dirintis sejak 2023, ketika Pemdes Bulurejo menjalani proses peningkatan kapasitas di bidang pertanian dan kelembagaan desa.
Dalam dokumentasi kegiatan terlihat rombongan desa berada di kawasan persawahan terasering dengan latar bentang alam hijau, dalam kegiatan bertajuk “Peningkatan Kapasitas Pertanian dan BUMDes dalam Mewujudkan Petani yang Unggul dengan Sistem Pertanian Organik.”

Momentum itu menegaskan fokus desa pada penguatan sumber daya manusia dan sistem pertanian berkelanjutan. Pembelajaran tersebut diaplikasikan melalui kunjungan studi ke Desa Sidan, Kabupaten Gianyar, Bali.
Dalam rangkaian kegiatan, rombongan Pemdes Bulurejo diterima di kantor desa setempat, diperkenalkan pada pengembangan potensi desa wisata, serta meninjau langsung praktik pertanian di lapangan.
Dokumentasi juga memperlihatkan aparatur desa menyimak penjelasan teknis mengenai hasil produksi pertanian, menunjukkan bahwa proses yang dilakukan bersifat observatif dan aplikatif, bukan sekadar kunjungan simbolis.
Langkah-langkah itu menjadi titik awal terbentuknya perspektif baru: pertanian desa harus dikelola secara terintegrasi, berkelanjutan, dan terhubung dengan kelembagaan ekonomi desa.
Sejak fase perintisan tersebut, pertanian diposisikan sebagai bagian dari sistem pembangunan desa.
Penguatan kapasitas petani, keterkaitan dengan kelembagaan desa seperti BUMDes, serta dorongan pada praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan menjadi elemen penting dalam kerangka pembangunan Bulurejo.
Pendekatan ini menandai pergeseran cara pandang: pertanian bukan lagi sektor pinggiran, melainkan poros ekonomi desa.
Dalam konteks meningkatnya perhatian terhadap ketahanan pangan dan kemandirian desa, langkah yang dirintis sejak 2023 justru terasa semakin kontekstual.
Desa yang menyiapkan fondasi pertanian berkelanjutan lebih awal memiliki posisi yang lebih siap menghadapi dinamika zaman, mulai dari perubahan iklim hingga fluktuasi ekonomi.
Rekam jejak Bulurejo memperlihatkan bahwa penguatan ketahanan pangan adalah proses bertahap yang dibangun melalui peningkatan kapasitas, pembelajaran lintas daerah, dan integrasi sistem ekonomi desa. (hambaAllah).
