Surabaya, Media Pojok Nasional – Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, persatuan bukan lagi sekadar slogan yang diucapkan saat upacara, tetapi menjadi kebutuhan nyata bagi bangsa seperti Indonesia. Sebagai mana negara yang berdiri di atas keberagam—baik suku, agama, budaya, maupun bahasa—persatuan adalah fondasi utama agar negara ini tetap kokoh dan tidak mudah terpecah.
Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa persatuan sering kali diuji. Perbedaan pandangan politik, penyebaran informasi yang tidak benar, hingga sikap intoleransi masih kerap muncul di tengah masyarakat. Ironisnya, kemajuan teknologi yang seharusnya mempererat justru kadang memperlebar jarak antarindividu. Media sosial menjadi arena konflik, bukan ruang dialog yang sehat.
Di sinilah pentingnya kesadaran bersama, terutama dari generasi muda. Persatuan tidak berarti menghapus perbedaan, melainkan kemampuan untuk hidup berdampingan dengan saling menghormati. Kita tidak harus sepakat dalam segala hal, tetapi kita harus sepakat bahwa keutuhan bangsa lebih penting daripada ego kelompok.
Selain itu, nilai gotong royong yang telah lama menjadi ciri khas bangsa Indonesia perlu dihidupkan kembali. Dalam kehidupan sehari-hari, hal sederhana seperti membantu sesama, menjaga tutur kata, dan tidak mudah terprovokasi sudah menjadi langkah nyata menjaga persatuan.
Jika Indonesia ingin menjadi negara yang kuat dan disegani, maka persatuan harus dijaga bukan hanya dalam kata, tetapi dalam tindakan. Persatuan bukan tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab seluruh rakyat. Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari sumber daya yang dimiliki, tetapi dari seberapa solid rakyatnya dalam menghadapi perbedaan.
Red.
