Bangkalan, Media Pojok Nasional – Upaya Pemerintah Kabupaten Bangkalan dalam meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya padi, tidak selalu berjalan mulus. Di balik angka target dan program bantuan, terdapat perjuangan panjang di lapangan, terutama dalam membuka kembali lahan tidur yang telah bertahun-tahun tidak produktif.
Hal itu diungkapkan Abu Said, Kepala Bidang Pertanian Dinas P2KP Bangkalan, saat memberikan keterangan terkait kondisi musim tanam dan penyaluran bantuan bibit padi musim tanam pertama (MT I).
Menurut Abu Said, saat ini di beberapa wilayah Bangkalan sudah mulai memasuki masa panen, sementara di lokasi lain masih dalam tahap tanam. Salah satunya di kawasan Masaran, Seramajut, di lahan milik warga seperti Pak Ade dan Haji Rawi.
“Sekarang ini sudah ada panen, tapi ada juga yang baru tanam. Ini masih MT pertama. Banyak yang kita dorong buka lahan baru, terutama lahan tidur,” ungkapnya.
Abu Said mengakui, membuka lahan tidur bukan perkara mudah. Banyak lahan yang sudah lebih dari 10 tahun tidak digarap, bahkan sejak awal berdirinya Jembatan Suramadu.
“Perjuangannya berat. Sudah disiapkan satu sampai dua hektare, ternyata setelah didatangkan traktor roda empat malah amblos. Traktornya sampai nginep seminggu di lokasi,” tuturnya.
Ia menjelaskan, kondisi tanah yang lama tidak diolah membuat struktur lahan rusak dan membutuhkan penanganan ekstra. Traktor sering mengalami kendala, bahkan harus ditarik dan diulang pengerjaannya berkali-kali. Kondisi ini menjadi bahan evaluasi penting bagi dinas untuk dilaporkan dan dijadikan dasar kebijakan ke depan.
“Ini memang tidak mudah, tapi harus dicoba. Karena kalau tidak, lahan-lahan tidur itu akan terus terbengkalai,” tegasnya.
Dampak Suramadu terhadap Lahan Pertanian
Lebih lanjut, Abu Said mengungkapkan fenomena sosial yang turut mempengaruhi pertanian Bangkalan. Pasca beroperasinya Jembatan Suramadu, banyak pemilik lahan dari wilayah timur Madura enggan mengelola sawahnya.
“Dulu lahan itu produktif. Tapi setelah Suramadu, banyak orang memilih menyeberang. Awal-awal sering ada kecelakaan, orang jadi takut lewat. Akhirnya lahan ditinggalkan,” jelasnya.
Akibatnya, hamparan lahan pertanian yang luas berubah menjadi lahan tidur dan tidak dimanfaatkan secara optimal hingga bertahun-tahun.
Terkait bantuan bibit padi, Abu Said memastikan bahwa penyaluran dilakukan langsung ke titik bagi, sesuai dengan kelompok tani pengusul. Bantuan tersebut bersumber dari pemerintah pusat. “Penyaluran langsung ke titik bagi, sesuai usulan kelompok tani melalui RDKK,” katanya.
Untuk MT I tahun ini, total bantuan bibit padi mencakup 6.895 hektare lahan. Jika dikonversi, jumlahnya setara dengan sekitar 40 kilogram bibit per hektare.
“Semua kecamatan yang punya lahan padi dapat. Tidak ada pilih-pilih, karena memang semua daerah padi mengusulkan,” jelasnya.
Selain padi sawah, terdapat pula bantuan untuk padi gogo yang diarahkan ke lahan kering dengan varietas yang tahan kekeringan.
Penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap di 18 kecamatan, bergantung pada kesiapan penyedia dan armada distribusi. Setiap hari, rata-rata tersedia tiga armada truk untuk mengangkut bibit langsung dari pusat ke lokasi.
“Ini sistemnya langsung kirim, data penerima sudah ada. Satu hari bisa tiga truk, besoknya lanjut lagi,” terangnya.
Beberapa kecamatan seperti Burneh dan Blega telah menerima bantuan, bahkan di beberapa lokasi dilakukan secara sinergis dengan elemen pemuda dan mahasiswa.
Abu Said menegaskan, pembukaan lahan tidur dan penyaluran bantuan bibit bukan sekadar program seremonial, melainkan bagian dari strategi jangka panjang menjaga ketahanan pangan Bangkalan.
“Kita sadar ini berat. Tapi kalau tidak dimulai, kapan lagi? Mudah-mudahan ke depan lahan-lahan tidur ini bisa kembali produktif,” pungkasnya.
Berita ini menunjukkan bahwa di balik program bantuan bibit padi, terdapat kerja lapangan, tantangan teknis, serta dinamika sosial yang kompleks sebuah potret nyata perjuangan sektor pertanian di Bangkalan.
