Ponorogo, Media Pojok Nasional –
Di sebuah sudut tenang di Kelurahan Tonatan, Kabupaten Ponorogo, ribuan orang kembali menautkan ingatan pada seorang ulama besar yang jejaknya tak hilang oleh waktu. Malam itu, halaman Pondok Pesantren Darul Huda Mayak berdenyut pelan, bukan oleh hiruk-pikuk, melainkan oleh kesadaran kolektif akan pentingnya merawat warisan keilmuan.
Haul ke-23 Almarhum KH Hasyim Sholeh bukan sekadar ritual tahunan. Ia menjelma ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa depan, tempat sanad keilmuan dirawat, bukan sekadar dikenang. Di tengah arus modernitas yang kerap mengikis akar, pesantren ini memilih bertahan dengan cara yang sunyi namun pasti: menghidupkan tradisi.
KH Hasyim Sholeh dikenal sebagai sosok yang menanamkan fondasi keilmuan berbasis sanad, rantai transmisi ilmu yang terjaga dari generasi ke generasi. Dalam tradisi pesantren, sanad bukan hanya legitimasi keilmuan, melainkan juga etika dan adab. Ia memastikan ilmu tidak tercerabut dari ruhnya.
Tema yang diusung tahun ini, “Merawat Sanad, Melanjutkan Perjuangan”, terdengar sederhana, namun menyimpan kedalaman makna. Ia seperti pengingat halus bahwa perjuangan ulama tidak selalu hadir dalam bentuk gegap gempita. Kadang, ia bersemayam dalam ketekunan mengajar, dalam kesabaran membimbing, dan dalam konsistensi menjaga nilai.
Sejumlah ulama hadir mengisi ruang batin jamaah. Said Aqil Siradj, salah satu tokoh yang dikenal luas di kancah nasional, turut menyampaikan refleksi keislaman yang menyejukkan. Sementara Abdul Qoyyum Mansur dan KH Abdus Sami’ Hasyim menghadirkan nuansa keilmuan yang lebih dekat dengan akar pesantren.
Namun, yang paling terasa bukanlah siapa yang berbicara, melainkan apa yang terus hidup dari sosok yang diperingati. KH Hasyim Sholeh seakan hadir dalam diamkekuatannya, melalui para santri, melalui kitab-kitab yang masih dikaji, dan melalui nilai yang tetap dijaga.
Haul ini menunjukkan satu hal yang kerap luput dari perhatian: bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang statis. Ia hidup, bergerak, dan beradaptasi, tanpa kehilangan jati diri. Di tengah dunia yang semakin cepat, Darul Huda Mayak memilih untuk tetap setia pada ritme yang lebih dalam: ritme ilmu, adab, dan keberkahan.
Di Mayak, waktu seolah berjalan dengan cara yang berbeda. Ia tidak terburu-buru. Ia memberi ruang bagi manusia untuk mengingat, merenung, dan melanjutkan.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatannya.
Merawat Sanad di Mayak: Haul ke-23 KH Hasyim Sholeh, Menjaga Nyala Tradisi
