Mojokerto, Media Pojok Nasional –
Intervensi ekologis berbasis komunitas kembali menemukan momentumnya di Desa Duyung, Kecamatan Trawas. Dalam lanskap lereng Gunung Penanggungan yang selama ini berfungsi sebagai kantong resapan strategis, pemerintah desa bersama jejaring relawan lintas organisasi mengorkestrasi aksi tanam 5.000 pohon di kawasan Sumber Lumpang, sebuah titik krusial dalam sistem hidrologi lokal.
Kegiatan bertajuk “Halal Bihalal Bersama Melestarikan Alam” itu tidak berhenti sebagai ritus sosial pasca-Idulfitri, melainkan dirancang sebagai intervensi ekologis berbasis keberlanjutan. Kepala Desa Duyung, Jurianto Bambang S, memposisikan agenda ini sebagai respons atas tekanan ekologis yang kian nyata, khususnya terkait fluktuasi debit air dan degradasi tutupan lahan di kawasan hulu.
“Ini bukan sekadar penanaman pohon, melainkan investasi ekologis. Sumber Duyung adalah tulang punggung distribusi air lintas desa. Ketika hulunya terganggu, maka hilir akan menanggung konsekuensi sistemik,” tegasnya.
Secara hidrologis, vegetasi pada lereng pegunungan memiliki fungsi vital dalam meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah, menahan laju limpasan permukaan (surface runoff), serta menjaga kestabilan debit air sepanjang musim. Dalam konteks Sumber Lumpang, keberadaan vegetasi bukan hanya menjaga kontinuitas suplai air, tetapi juga menjadi benteng alami terhadap potensi krisis air di wilayah bawah yang bergantung pada aliran gravitasi.
Yang menarik, narasi yang dibangun Pemerintah Desa Duyung melampaui pendekatan administratif. Mereka mengusung paradigma intergenerational ecological stewardship, dirumuskan dalam slogan “Untuk Anak Cucu”. Sebuah framing yang menempatkan keberlanjutan bukan sebagai jargon normatif, melainkan mandat etis lintas generasi.
Aksi ini juga mencerminkan model co-production governance, di mana negara (desa) tidak berjalan sendiri, melainkan berbagi peran dengan masyarakat sipil. Kolaborasi ini memperkuat legitimasi sosial sekaligus meningkatkan efektivitas implementasi di lapangan, sebuah pendekatan yang kerap absen dalam program konservasi berbasis proyek semata.
Namun, catatan kritis tetap mengemuka. Penanaman pohon dalam skala besar kerap gagal pada fase pascatanam, ketika aspek pemeliharaan, monitoring, dan evaluasi tidak terstruktur. Tanpa desain aftercare yang presisi, 5.000 bibit berpotensi menjadi angka simbolik tanpa dampak ekologis yang signifikan.
Di titik inilah konsistensi diuji. Apakah gerakan ini akan bertransformasi menjadi sistem konservasi berkelanjutan, atau berhenti sebagai euforia seremonial?
Desa Duyung telah meletakkan fondasi. Namun dalam disiplin ekologi, keberhasilan tidak diukur dari jumlah pohon yang ditanam, melainkan dari berapa yang tumbuh, bertahan, dan menghidupi. (hambaAllah).
