Banyuwangi, Media Pojok Nasional –
Momentum Ramadan 1447 Hijriah dimaknai secara substantif oleh SMAN 1 Giri Taruna Bangsa, Banyuwangi bukan sekadar sebagai perayaan simbolik, melainkan sebagai ruang refleksi kolektif bagi seluruh ekosistem pendidikan. Melalui pesan resmi bertajuk Marhaban Ya Ramadan 1447 H, institusi ini menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga menumbuhkan kedalaman spiritual dan etika publik.
Dalam pernyataan yang disampaikan secara terbuka kepada masyarakat pendidikan, Kepala Sekolah I Ketut Renen, S.Pd., M.Si. menekankan bahwa Ramadan merupakan fase pedagogis yang sarat nilai. Puasa bukan hanya praktik ritual, melainkan proses disiplin diri yang melatih pengendalian hasrat, ketekunan, serta kejujuran—tiga fondasi utama dalam karakter kepemimpinan.
“Semoga Ramadan menjadi momentum memperkuat iman serta menumbuhkan semangat persatuan, saling menghormati, dan toleransi,” demikian substansi pesan yang disampaikan.
Secara akademik, pesan tersebut memiliki dimensi yang lebih luas. Dalam teori pendidikan karakter modern, pembentukan integritas tidak dapat dilepaskan dari pengalaman spiritual yang reflektif. Ramadan menghadirkan latihan sistematis: pengaturan waktu, konsistensi ibadah, kontrol emosi, hingga empati sosial melalui zakat dan sedekah. Nilai-nilai ini paralel dengan prinsip self-regulated learning yang menjadi basis pendidikan abad ke-21.
Kepemimpinan I Ketut Renen menunjukkan model kepala sekolah sebagai moral leader, figur yang tidak hanya mengelola kurikulum, tetapi juga merawat atmosfer etik di lingkungan sekolah. Di tengah dinamika sosial yang kompleks, keberanian menempatkan nilai toleransi dan persatuan sebagai pesan utama Ramadan adalah sikap strategis dan visioner.
Secara visual, publikasi yang dirilis sekolah memadukan simbol religius, ornamen geometris Islami, serta identitas institusi secara harmonis. Ini bukan desain biasa, melainkan komunikasi simbolik bahwa spiritualitas dan profesionalisme dapat berjalan beriringan tanpa saling menegasikan.
Ramadan 1447 H di SMAN 1 Giri Taruna Bangsa bukan sekadar kalender ibadah. Ia adalah pernyataan ideologis bahwa pendidikan sejati membangun manusia utuh, cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kokoh secara moral.
Di era ketika pendidikan kerap direduksi menjadi angka dan statistik, pesan ini mengingatkan publik: sekolah yang besar adalah sekolah yang mampu menyeimbangkan rasio dan nurani. (hambaAllah).
