Gresik, Media Pojok Nasional –
Ukuran keseriusan negara dalam mengelola pendidikan tidak tercermin dari pidato, melainkan dari bagaimana sekolah dirawat, diawasi, dan dipimpin. Dalam konteks inilah kunjungan kerja Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, ke SMAN 1 Balongpanggang, Minggu, 4 Januari 2026, memperoleh relevansi strategis.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda monitoring dan pembinaan langsung terhadap satuan pendidikan, khususnya dalam memastikan kesiapan sekolah mengawali tahun 2026. Fokus peninjauan diarahkan pada kondisi lingkungan belajar, mulai dari kebersihan, ketertiban, hingga fungsi sarana penunjang proses belajar mengajar.
Secara kebijakan, pendekatan ini menegaskan bahwa lingkungan fisik sekolah bukan elemen pelengkap, melainkan variabel kunci dalam kualitas pendidikan. Sejumlah riset pendidikan menunjukkan korelasi langsung antara lingkungan belajar yang terkelola baik dengan peningkatan konsentrasi, disiplin, dan capaian akademik peserta didik.
Dalam peninjauan tersebut, SMAN 1 Balongpanggang tercatat berada dalam kondisi terawat dan fungsional. Perbaikan ringan dilakukan tepat waktu, ruang belajar tertata, serta kebersihan lingkungan dijaga secara konsisten. Kondisi ini mencerminkan adanya sistem kerja internal yang berjalan, bukan sekadar respons insidental menjelang kunjungan pejabat.
Kepala SMAN 1 Balongpanggang, Drs. Edi Agus Santoso, M.E, dinilai mampu menjaga kesinambungan tata kelola sekolah. Kepemimpinannya memperlihatkan orientasi pada pencegahan kerusakan, efisiensi pemeliharaan, serta pembentukan budaya tanggung jawab kolektif di lingkungan sekolah. Dalam praktik manajemen pendidikan, pola semacam ini menandai kepemimpinan yang bekerja pada level sistem, bukan simbolik.
Sementara itu, kehadiran Aries Agung Paewai di lapangan memperlihatkan pola kepemimpinan birokrasi pendidikan yang menekankan verifikasi langsung, bukan hanya laporan administratif. Pesan yang disampaikan bersifat operasional: sekolah harus bersih, tertib, dan nyaman karena di sanalah proses pendidikan berlangsung secara nyata, bukan teoritis.
Kunjungan ini menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak lahir dari satu aktor tunggal, melainkan dari pertemuan antara kebijakan yang jelas di tingkat provinsi dan kepemimpinan sekolah yang mampu menerjemahkannya secara konsisten di lapangan.
Bagi publik, SMAN 1 Balongpanggang menjadi contoh bahwa sekolah negeri dapat dikelola secara bermartabat ketika pengawasan berjalan dan kepala sekolah memahami perannya sebagai penanggung jawab mutu, bukan sekadar administrator. Bagi pemerintah, peninjauan semacam ini menjadi pengingat bahwa pendidikan menuntut kehadiran negara yang nyata, terukur, dan berkelanjutan. (hambaAllah).
