Ketika Pesan Moral Datang dari Desa: Unggahan Lurah Iwan Bulurejo Menyentil Kesadaran Etika Publik

Gresik, Media Pojok Nasional –
Di tengah dunia yang gaduh oleh pamer kuasa, adu status, dan budaya merasa paling benar, sebuah pesan sederhana justru muncul dari ruang yang sering dipandang sebelah mata: desa. Unggahan media sosial milik Imam Shofwan, Kepala Desa Bulurejo, Kecamatan Benjeng, yang akrab disapa Lurah Iwan, menjadi pengingat moral yang kuat, tenang, namun menghantam nurani.

Dalam unggahan tersebut terpampang kalimat:
“Didiklah hati agar tidak berbangga diri, dan didiklah mata agar tidak memandang rendah orang lain.”
Sebuah pesan singkat, namun sarat makna filosofis dan etika sosial yang dalam.

Di era ketika kepemimpinan sering direduksi menjadi simbol, pencitraan, dan retorika kosong, pesan Lurah Iwan justru menunjukkan dimensi lain dari seorang pemimpin: kesadaran batin. Ia tidak berbicara tentang kekuasaan, tidak pula memamerkan prestasi. Yang ia tawarkan adalah pendidikan hati dan mata, dua organ moral yang menentukan arah perilaku manusia.

Pesan ini secara halus namun tegas menegur dua penyakit laten kekuasaan:

  • Kesombongan batin (merasa lebih mulia),
  • Arogansi pandangan (merendahkan sesama).

Keduanya adalah akar dari kerusakan sosial, konflik horizontal, bahkan runtuhnya kepercayaan publik.

Unggahan tersebut bukan sekadar “ucapan selamat pagi” biasa. Ia mencerminkan nilai universal yang relevan lintas bangsa dan peradaban: kerendahan hati (humility) dan keadilan dalam memandang manusia. Nilai yang diajarkan para nabi, filsuf, dan pemikir besar dunia, namun sering hilang di tengah hiruk-pikuk modernitas.

Ironisnya, pesan sedalam ini justru lahir dari seorang kepala desa, bukan dari mimbar kekuasaan tingkat tinggi. Ini seolah menjadi kritik sunyi bahwa kebijaksanaan tidak selalu lahir dari gedung megah, tetapi dari kejernihan jiwa.

Dalam konteks sosial hari ini, di mana perbedaan ekonomi, jabatan, pendidikan, dan afiliasi sering dijadikan alasan untuk merasa lebih tinggi, pesan ini menjadi tamparan halus namun menyakitkan bagi siapa pun yang masih gemar merendahkan orang lain.

Unggahan tersebut seakan berkata:
Jika hatimu terdidik, kau tak butuh merasa hebat.
Jika matamu terdidik, kau tak akan merasa orang lain hina.

Apa yang dilakukan Lurah Iwan membuktikan bahwa kepemimpinan sejati dimulai dari keteladanan nilai, bukan dari kerasnya suara atau tingginya jabatan. Di saat banyak pemimpin sibuk mengatur orang lain, ia justru mengajak untuk mengatur diri sendiri.

Dan barangkali, dunia memang tidak selalu butuh pidato panjang, cukup satu kalimat jujur, lahir dari hati yang bersih, untuk menggugah peradaban.

Bulurejo berbicara. Dunia seharusnya mendengar.
(hambaAllah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *