Indonesia, Media Pojok Nasional –
Salah satu penyakit paling berbahaya di zaman ini bukan kebodohan, melainkan merasa paling benar. Dawuh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqy, “dalam pergaulan, jangan membawa ilmumu”, menjadi kritik keras terhadap watak manusia yang menjadikan ilmu sebagai alat pembenaran diri.
Pesan ini bukan anti-ilmu, melainkan tamparan bagi mereka yang menjadikan kepintaran sebagai senjata. Dalam realitas sosial, terutama saat berhadapan dengan orang lain, sering kali yang dikeluarkan bukan akhlak, melainkan seluruh kepintaran. Hakikatnya bukan untuk mencari kebenaran, tetapi karena tidak terima dengan seseorang. Perasaan tidak suka didahulukan, bukan kejujuran intelektual.
Di sinilah letak kerusakan itu bermula. Kebenaran dibahas bukan demi kebenaran, melainkan demi membuktikan bahwa diri sendirilah yang paling benar. Ilmu dipakai untuk mengalahkan, bukan untuk menerangi. Bahkan sering kali dorongannya bukan dalil, tetapi kesombongan yang disamarkan dengan bahasa kebenaran.
Orang yang selalu merasa benar hampir mustahil belajar. Ia tidak mencari kebenaran, ia mencari pengakuan. Ia tidak berdialog, ia menghakimi. Dan ketika sikap ini dibungkus dengan ilmu, kerusakannya jauh lebih parah daripada kebodohan biasa.
KH Ahmad Asrori mengingatkan bahwa dalam pergaulan, yang utama adalah tawadhu dan akhlaqul karimah. Ilmu harus ditundukkan oleh adab. Sebab ilmu yang tidak tunduk pada adab hanya akan melahirkan keangkuhan, konflik, dan kerusakan nilai.
Inilah yang oleh para ulama disebut sebagai sebab rusaknya langit dan bumi: ketika manusia merasa paling benar dan menolak merendah di hadapan kebenaran itu sendiri. Bukan kurang ilmu yang menghancurkan peradaban, melainkan ilmu yang dipakai untuk membenarkan ego.
Dawuh ini adalah peringatan keras bagi siapa pun yang merasa dirinya selalu benar: kebenaran tidak pernah lahir dari kesombongan, dan ilmu tidak pernah selamat tanpa kerendahan hati. (hambaAllah)
