Keberanian Semu: Orang yang Banyak Bicara, Penakut, dan Manipulatif secara Psikologis

Indonesia, Media Pojok Nasional –
Dalam psikologi dan psikiatri modern, banyak bicara bukan tanda kekuatan, melainkan alat manipulasi dan penutup ketakutan batin. Kebisingan verbal kerap dipakai untuk memandikan orang di sekitarnya dengan tekanan kata-kata, menciptakan efek kejut yang sering disebut sebagai “shock therapy”. Secara ilmiah, ini bukan terapi dan bukan ketegasan, melainkan ilusi kekuatan yang isinya nol besar.

Individu yang mendominasi percakapan, memaksakan pendapat, menolak koreksi, dan terus membicarakan dirinya sendiri menunjukkan pola konsisten: ego rapuh dan ketakutan kronis terhadap evaluasi objektif. Bicara dijadikan pagar pencitraan agar tampak kuat, padahal fungsinya justru untuk menghindari diuji.

Psikologi kepribadian mengklasifikasikan perilaku ini sebagai mekanisme pertahanan ego tingkat rendah, terutama overcompensation. Bicara tanpa henti adalah respons panik terhadap kemungkinan salah, kalah, atau kehilangan kendali. Diam menjadi ancaman karena membuka ruang evaluasi, sesuatu yang tidak mampu mereka hadapi.

Dalam psikiatri kepribadian, obsesi membicarakan diri sendiri dikenal sebagai self-referential communication. Ini bukan percaya diri, melainkan ketergantungan pada validasi eksternal. Individu harus terus menjadi pusat narasi karena harga diri internalnya tidak cukup kuat berdiri sendiri.

Manipulasi verbal kemudian menjadi pola tetap. Ilmu komunikasi klinis menyebutnya instrumental communication: berbicara bukan untuk mencari kebenaran, tetapi mengendalikan persepsi. Data ditenggelamkan oleh opini, kritik dialihkan ke cerita diri, dan transparansi dianggap ancaman. Ketika dihadapkan pada fakta dan verifikasi, pengaruhnya runtuh, karena sejak awal tidak ada substansi.

Kesimpulan ilmiah: orang yang banyak bicara, manipulatif, dan mengklaim “shock therapy” bukan pribadi kuat. Ia adalah penakut secara psikologis yang menutupi kecemasannya dengan kebisingan verbal.

Keberanian tidak berisik.
Ketakutanlah yang membutuhkan panggung.
(hambaAllah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *