Hijau di Tengah Beton: Panen Pakcoy Harapan dari Urban Farming Taman Laku PKK RW 09

Bangkalan, Media Pojok Nasional — Ditengah rapatnya bangunan Perum Pondok Halim 2, Desa Burneh, sepetak lahan yang dulu dianggap biasa kini berubah menjadi sumber harapan. Pagi itu, tawa ibu-ibu PKK RW 09 pecah bersamaan dengan hijau segar pakcoy yang siap dipanen di Urban Farming Taman Laku.

Tidak ada alat canggih, tak pula lahan luas seperti di desa agraris. Yang ada hanyalah semangat gotong royong dan keyakinan bahwa bertani tidak selalu identik dengan kesulitan. Satu per satu pakcoy dicabut dari media tanam, daunnya lebar, segar, dan menandakan perawatan yang tekun.

Menurut Dr. CHK Karyadinata, Mantan Kabid Sarana dan Prasarana Dinas P2KP Pertanian, yang kini menjabat Plt Kepala Dinas P2KP kegiatan ini menyimpan pesan penting bagi publik, khususnya para petani dan warga perkotaan.
Pertama, pemanfaatan lahan kosong.

“Lahan sempit bukan penghalang. Selama ada kemauan, sudut halaman, sela bangunan, bahkan taman lingkungan bisa produktif,” ujarnya.

Kedua, pertanian perkotaan sebagai jawaban atas tantangan pangan dan ekonomi keluarga. Urban farming bukan sekadar tren, tetapi solusi nyata agar warga kota tetap dekat dengan sumber pangan sehat.
Dan yang paling penting, ketiga: bertani itu tidak susah. Panen pakcoy di RW 09 menjadi bukti bahwa dengan pendampingan, ketelatenan, dan manajemen sederhana, hasil bisa dirasakan bersama.

Bagi ibu-ibu PKK, panen ini bukan soal berapa kilogram sayur yang dihasilkan, melainkan rasa bangga. Bangga karena mampu menanam sendiri, bangga karena lingkungan menjadi lebih hijau, dan bangga karena memberi contoh positif bagi anak-anak mereka.

Urban farming Taman Laku bukan sekadar kebun kecil. Ia adalah simbol perubahan cara pandang: bahwa kemandirian pangan bisa dimulai dari rumah, dari lingkungan terdekat, dan dari niat baik yang dirawat bersama.
-Anam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *