Bangkalan, Media Pojok Nasional — Ada kebanggaan tersendiri ketika seorang guru bukan hanya dikenal karena dedikasinya dalam mendidik, tetapi juga karena kiprahnya di luar ruang kelas. Itulah yang ditunjukkan oleh Trisnawati Asri Okaria, S.Pd., guru SMAN 1 Bangkalan yang berhasil meraih Juara 2 Festival Menyanyi Pesona Indonesia Jawa Timur.
Dalam ajang tingkat provinsi yang diikuti oleh para guru dari berbagai daerah se-Jawa Timur ini, Trisnawati tampil memukau dengan karakter vokalnya yang kuat dan penuh penghayatan. Ia tidak sekadar bernyanyi, tetapi menghidupkan lagu yang ia bawakan dengan rasa dan jiwa. Tak heran, dewan juri pun menempatkannya di posisi kedua terbaik — sebuah capaian yang pantas diapresiasi.
Lebih dari sekadar lomba, prestasi ini mencerminkan sesuatu yang lebih mendalam: bahwa guru juga manusia berjiwa seni, yang mampu menularkan semangat keindahan dan ekspresi kepada murid-muridnya. Dalam konteks pendidikan modern, di mana pembelajaran tidak lagi hanya soal akademik, kehadiran sosok seperti Trisnawati menjadi simbol penting — guru yang mendidik dengan hati, menginspirasi dengan karya.
Kepala SMAN 1 Bangkalan, Jumali, dengan bangga menyampaikan apresiasi atas prestasi tersebut. Menurutnya, kemenangan Trisnawati tidak hanya membawa nama baik pribadi, tetapi juga mengharumkan nama sekolah.
“Kami sangat bangga. Ini bukti bahwa guru kami tidak hanya unggul dalam mendidik, tetapi juga mampu mengekspresikan diri dalam bidang seni. Ibu Trisnawati menjadi inspirasi bagi kami semua,” ujarnya.
Opini publik pun sepakat: di tengah arus digital dan tuntutan profesionalisme guru yang semakin kompleks, sosok seperti Trisnawati adalah oase. Ia membuktikan bahwa seorang pendidik bisa tetap kreatif, berprestasi, dan menjadi contoh hidup bagi generasi muda tentang bagaimana kerja keras, bakat, dan semangat bisa berpadu indah.
Prestasi ini seakan meneguhkan posisi SMAN 1 Bangkalan sebagai sekolah yang tidak hanya mencetak siswa berprestasi, tetapi juga mendukung penuh potensi para pendidiknya. Karena sejatinya, pendidikan yang hidup dimulai dari guru yang terus tumbuh — di kelas, di panggung, dan di hati murid-muridnya.
(Hanif)
