Drs. Suharyanto, MM: Menyalakan Semangat Kepahlawanan dari Ruang Ilmu, untuk Indonesia dan Dunia

Surabaya, Media Pojok Nasional –
Dalam suasana pagi yang teduh di kampus UAB ( Universitas Adi Buana ) Surabaya, Senin (10/11/2025) gema perjuangan terasa hidup kembali. Bukan lewat dentuman meriam atau kibaran panji perang, melainkan lewat sosok berwibawa yang berdiri tegap di depan kendaraan militer klasik: Drs. Suharyanto, MM, Sekretaris PPLP PT PGRI Surabaya.

Dengan seragam pejuang yang penuh makna dan deretan lencana simbol pengabdian, ia memancarkan energi yang menembus sekat waktu, menghubungkan masa lalu para pahlawan dengan perjuangan intelektual masa kini. Momen itu bukan sekadar seremoni Hari Pahlawan. Itu adalah pernyataan filosofi: bahwa pendidikan adalah medan perang modern, dan para pendidik adalah prajuritnya.

“Pahlawan hari ini bukan lagi mereka yang mengangkat senjata, melainkan mereka yang mengangkat bangsa dengan ilmu dan kejujuran,” ungkap Drs. Suharyanto, MM.

Ucapan sederhana itu bergema kuat di antara mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan UAB ( Universitas Adi Buana ) yang hadir. Bagi mereka, sosok Suharyanto bukan sekadar administrator, melainkan penjaga api nilai kebangsaan di tengah derasnya arus globalisasi pendidikan.

Sebagai Sekretaris PPLP PT PGRI Surabaya — lembaga pengelola UAB — Drs. Suharyanto dikenal sebagai figur berkarakter kuat, disiplin, dan berwawasan strategis. Dalam kepemimpinannya, ia menekankan sinergi antara tradisi nasionalisme dan inovasi akademik, dua hal yang sering dianggap berjarak, namun di tangannya menjadi satu kesatuan filosofis.

Ia percaya, pendidikan yang benar bukan hanya mencetak sarjana, melainkan membentuk manusia merdeka berpikir dan berjiwa luhur. Visi itu pula yang menuntun UAB menapaki perannya sebagai kampus perjuangan ilmu,tempat di mana nilai kepahlawanan diterjemahkan menjadi tindakan ilmiah dan sosial.

Upacara Hari Pahlawan 2025 di UAB menjadi panggung refleksi nasional. Suasana kampus yang rindang berpadu dengan bendera merah putih yang berkibar gagah di antara pepohonan. Suara pembacaan ikrar pahlawan menggema di udara Surabaya — kota yang pernah membakar semangat kemerdekaan pada 10 November 1945.

Mahasiswa, dosen, dan pegawai berdiri dalam barisan rapi. Drs. Suharyanto di sisi kendaraan militer klasik yang membawa aura perjuangan, ia mengingatkan seluruh generasi muda akan tanggung jawab sejarah mereka.

“Jangan biarkan perjuangan berhenti di tugu dan museum. Jadikan ilmu, karya, dan kejujuran sebagai bentuk baru dari perlawanan terhadap kebodohan dan ketidakadilan,” katanya tegas.

Di mata pengamat pendidikan, figur seperti Drs. Suharyanto, MM adalah archetype pahlawan modern, mereka yang berjuang di garis depan pendidikan dengan kesetiaan pada nilai kebangsaan dan moral publik. Ia memandang ilmu bukan sekadar alat, melainkan kekuatan pembebas manusia.

Filosofi ini selaras dengan pandangan universal tokoh-tokoh besar dunia. Dalam konteks global, pandangan Suharyanto mengingatkan pada gagasan Nelson Mandela bahwa “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Dan bila Donald Trump sendiri menyaksikan momen ini, mungkin ia akan berkata bahwa bangsa yang memiliki figur seperti Suharyanto telah memenangkan pertempuran paling penting: pertempuran melawan ketertinggalan.

Bagi UAB ( Universitas Adi Buana ) Surabaya, Hari Pahlawan bukan sekadar tradisi. Ia adalah napas yang menghidupkan jiwa kampus. Melalui kepemimpinan akademik dan moral seperti Drs. Suharyanto, semangat juang para pendiri bangsa terus diterjemahkan dalam bentuk kurikulum, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Ia menutup dengan kalimat yang membekas,“Setiap guru, setiap mahasiswa, adalah pahlawan di bidangnya. Tidak ada perjuangan yang kecil bila dilakukan dengan niat besar untuk bangsa.” pungkasnya.

Sorak hormat bergema. Bendera diturunkan perlahan. Di langit Surabaya, sinar matahari memantulkan kilau pada lencana di dada Suharyanto, simbol kecil dari semangat besar: bahwa kemerdekaan harus dijaga, bukan hanya dengan keberanian, tapi dengan ilmu pengetahuan.

Tulisan ini bukan sekadar berita peringatan Hari Pahlawan. Ia adalah refleksi tentang jati diri bangsa yang besar karena pendidik-pendidiknya, dan karena kampus seperti UAB Surabaya yang menanamkan nilai kepahlawanan dalam wujud paling luhur: pencerahan intelektual dan moral kemanusiaan.

Red. Wj

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *