Ciri-Ciri Orang yang Tidak Disukai Allah: Ketika Kelapangan Dunia Menjadi Istidraj yang Menipu

Indonesia, Media Pojok Nasional –
Jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa hidup yang lapang adalah tanda cinta Allah.

Ada orang yang rezekinya deras. Usahanya tak pernah jatuh. Keluarganya rukun. Tubuhnya sehat. Dihormati di mana-mana. Bahkan menjelang wafat, ia tampak tenang, seolah maut pun ramah kepadanya. Semua orang berkata, “Inilah hamba pilihan.”

Tetapi dawuh KH. Ahmad Asrori Al Ishaqi menghantam keyakinan semu itu: bisa jadi itulah orang yang tidak disukai Allah.

Mengapa? Karena seluruh amalnya dibayar lunas di dunia. Setiap kebaikan yang ia lakukan diganti dengan kenyamanan, fasilitas, pujian, dan kemudahan. Tidak ada yang ditunda. Tidak ada yang disimpan. Semuanya kontan.

Dalam disiplin akidah dan tasawuf, keadaan ini disebut istidraj—kenikmatan yang justru menjadi jebakan. Allah biarkan ia naik, tinggi, terhormat, hingga ia merasa aman. Merasa benar. Merasa tidak perlu takut. Padahal perlahan ia sedang dihabiskan jatah akhiratnya.

Ia terlihat baik, tetapi mungkin kebaikannya tercampur riya, ambisi dunia, atau sekadar reputasi. Ia tampak saleh, tetapi hatinya tidak pernah gemetar. Ia berbuat, namun tidak pernah benar-benar tunduk.

Dan saat tirai dunia ditutup, saat ia berdiri sendirian di hadapan Allah, keputusan itu bisa sangat menggetarkan:

“Masuklah ke neraka. Surga telah kau nikmati di dunia.”

Kalimat ini bukan ancaman kosong. Ini tamparan kesadaran. Dunia bisa menjadi panggung penghargaan sementara, tetapi akhirat adalah ruang keadilan yang mutlak. Jika semua pujian, semua kemudahan, semua balasan sudah habis di dunia, apa lagi yang tersisa?

Maka berhati-hatilah pada hidup yang terlalu membuat kita merasa aman. Jangan bangga jika semua lancar, tetapi hati tidak pernah menangis dalam sujud. Jangan merasa selamat hanya karena manusia memuji.

Sebab ukuran bukan pada gemerlap dunia, melainkan pada nilai di sisi Allah.

Lebih baik hidup yang diuji tetapi menyimpan pahala, daripada hidup yang terlihat sempurna namun bangkrut saat pengadilan Ilahi dimulai.

Renungkan. Jangan sampai dunia yang kita anggap sebagai tanda cinta, justru menjadi bukti bahwa kita sedang dijauhkan dari-Nya.

Dikutip dari dawuh KH. Ahmad Asrori Al Ishaqi.
(hambaAllah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *