Gresik,Media Pojok Nasional – .Di tengah berbagai dinamika kehidupan masyarakat, sosok-sosok yang mampu menjaga nilai kebersamaan dan keikhlasan kerap muncul bukan dari panggung kekuasaan, melainkan dari ruang-ruang sosial yang sederhana. Salah satunya adalah Abah Sareh, sesepuh Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Rayon Kedungsekar, Ranting Benjeng, yang dikenal luas warga sebagai “Raja Sawer”.
Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam berbagai kegiatan sosial, hajatan warga, hingga acara kebudayaan dan kebersamaan PSHT, Abah Sareh kerap tampil dengan gaya khasnya: ringan tangan, murah senyum, dan tak segan menyawer sebagai bentuk dukungan moral sekaligus simbol kegembiraan. Namun, bagi warga Kedungsekar dan sekitarnya, sawer Abah Sareh bukan soal materi, melainkan pesan sosial tentang berbagi dan memuliakan kebersamaan.

“Abah itu orangnya sederhana, tapi hatinya besar. Saweran beliau selalu membawa suasana cair, rukun, dan penuh kekeluargaan,” ujar salah satu warga Benjeng yang kerap hadir dalam kegiatan PSHT.

Sebagai sesepuh PSHT, Abah Sareh dikenal konsisten menanamkan nilai-nilai persaudaraan sejati, menghormati perbedaan, serta menjaga marwah organisasi agar tetap membumi di tengah masyarakat. Kehadirannya dalam berbagai acara bukan untuk menonjolkan diri, melainkan memastikan bahwa semangat persaudaraan tidak berhenti pada simbol, tetapi hidup dalam praktik sehari-hari.

Fenomena “Raja Sawer” yang melekat pada Abah Sareh justru memperlihatkan wajah lain dari kepemimpinan kultural: tanpa jabatan struktural, tanpa panggung politik, namun memiliki pengaruh sosial yang kuat. Ia menjadi penanda bahwa ketokohan sejati lahir dari keteladanan, bukan dari pencitraan.
Di Benjeng, nama Abah Sareh tidak sekadar dikenang sebagai sesepuh PSHT, tetapi juga sebagai figur yang mampu menjahit kebersamaan lintas usia dan latar belakang. Dalam kesederhanaannya, Abah Sareh telah menjelma menjadi simbol kehangatan sosial, sebuah nilai yang kian mahal di tengah zaman yang serba cepat dan individualistik.
Red..
