Muharram, Anak Yatim, dan Berbagi di Jantung Pendidikan Madiun

NGAWI, Media Pojok Nasional – Kamis, 13 Agustus 2026. Matahari meninggi di atas SMK Negeri 2 Ngawi ketika aula sekolah itu dipenuhi suasana yang berbeda. Bukan rapat dinas, bukan pula seremoni yang selesai bersama tepuk tangan. Hari itu, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Madiun bersama BAZNAS Jawa Timur dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menggelar Gebyar Muharram 1448 H – Lebaran Yatim.

Di antara para pejabat, guru, tenaga kependidikan, dan tamu undangan, anak-anak yatim duduk dengan wajah tenang. Di belakang mereka terpampang pesan: “Membantu Anak Yatim: Mencintai Allah SWT & Rasul-Nya. Tidak membantu Anak Yatim: Pendusta Agama.” Pesan itu menjadi pengingat bahwa kepedulian bukan sekadar urusan sosial, tetapi juga bagian dari tanggung jawab spiritual.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Madiun, Lena, M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada ASN, guru, dan tenaga kependidikan yang telah menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui UPZ BAZNAS Cabdin Madiun. Dana tersebut disalurkan kembali dalam berbagai bentuk kemanfaatan, termasuk dukungan UMKM, modal usaha, dan santunan.

“Semoga dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ujar Lena.

Kepada anak-anak yatim, ia menitipkan pesan yang sederhana tetapi dalam.

“Belajarlah dengan semangat. Sukseslah. Nanti suatu hari nanti, kalianlah yang akan berbagi kepada mereka yang membutuhkan,” ungkapnya.

Kalimat itu membuat makna berbagi terasa lebih panjang daripada satu hari perayaan. Anak-anak tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga menerima sebuah harapan: bahwa suatu hari mereka dapat berdiri di sisi yang memberi.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Afif Amirullah, S.H.I., S.H., M.Pd., Pimpinan BAZNAS Jawa Timur, unsur BAZNAS Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Madiun dan BAZNAS Kabupaten Ngawi, serta Kapolres Ngawi yang diwakili Kapolsek Padas.

Di depan kamera, senyum anak-anak mengiringi penyerahan bantuan. Tas-tas bingkisan berada di tangan mereka. Momen itu tampak sederhana, tetapi justru di situlah letak harunya: sebuah pemberian mungkin kecil bagi yang menyerahkan, namun bisa berarti besar bagi yang menerima.

Muharram membawa pesan tentang hijrah dan awal yang baru. Di Ngawi, pesan itu diterjemahkan melalui kepedulian yang nyata. Zakat, infak, dan sedekah bergerak dari mereka yang memiliki kelapangan menuju mereka yang membutuhkan.

Sebab pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Ada pelajaran yang tumbuh dari keteladanan: bahwa ilmu seharusnya melahirkan kepedulian, keberhasilan semestinya melahirkan kebermanfaatan, dan rezeki yang dititipkan Tuhan memiliki hak untuk menjadi jalan kebaikan bagi sesama.

Ketika acara berakhir, anak-anak pulang membawa bingkisan dan senyum. Aula kembali perlahan sunyi. Namun pesan yang disampaikan hari itu tetap tinggal.

Hari ini mereka menerima. Esok, semoga mereka menjadi orang yang memberi.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam Lebaran Yatim: bukan tentang seberapa besar sesuatu yang diberikan, melainkan tentang seberapa jauh kebaikan itu mampu hidup setelah tangan yang memberi dan menerima kembali berpisah. (Ayyubi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *