LAMONGAN, Media Pojok Nasional – 14 Agustus 2026, halaman SMP Negeri 1 Turi Lamongan kembali menjadi salah satu ruang tempat pendidikan karakter bekerja dalam bentuk yang paling sederhana: seragam cokelat, barisan, kerja bersama, dan disiplin yang tidak bisa dipelajari hanya dari buku.
Hari Pramuka diperingati SMPN 1 Turi melalui pesan “Membentuk Generasi Muda Berkarakter dan Berjiwa Pancasila.” Pesan tersebut menjadi bagian dari publikasi sekolah yang juga menampilkan Kepala SMPN 1 Turi, Harto, S.Pd., M.M., dalam seragam Pramuka.
Pramuka, Praja Muda Karana, merupakan wadah pendidikan nonformal bagi generasi muda. Kegiatannya dirancang untuk membentuk watak, akhlak, budi pekerti luhur, kemandirian, kedisiplinan, kepemimpinan, serta kecakapan hidup.
Di titik ini, Pramuka bukan sekadar urusan tali-temali, berkemah, tepuk tangan, atau barisan yang bergerak serempak. Ada proses pendidikan yang berlangsung melalui pengalaman langsung: bagaimana seseorang menjalankan tugas, mematuhi aturan, bekerja bersama, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap kelompoknya.
SMPN 1 Turi juga membawa pesan “Tepuk Pramuka: Mari terus berkarya, mengabdi, dan menjaga NKRI.” Dalam publikasinya, sekolah menempatkan gerakan Pramuka sebagai bagian dari pembinaan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045, dengan harapan lahirnya generasi yang siap mengambil peran sebagai pemimpin masa depan bangsa.
Harto tidak hanya memimpin SMPN 1 Turi. Ia juga tercatat sebagai Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Lamongan untuk masa bakti 2024–2029. Dalam kapasitas tersebut, ia aktif dalam koordinasi organisasi, kegiatan sosial, serta penyampaian imbauan terkait keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Lamongan.
Dua ruang pengabdian itu bertemu pada satu titik: pembinaan generasi muda.
Di sekolah, pendidikan karakter berlangsung melalui proses pembelajaran dan kegiatan kesiswaan. Dalam organisasi sosial, pembinaan berjalan melalui kebersamaan, koordinasi, kegiatan sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Hari Pramuka kemudian menjadi semacam kaca besar. Yang dipantulkan bukan hanya seragam dan atribut, tetapi gagasan tentang manusia seperti apa yang hendak dibentuk oleh pendidikan.
Generasi yang disiplin, beriman dan bertakwa, patriotik, memiliki kecakapan hidup, berjiwa Pancasila, serta memahami bahwa menjaga Indonesia tidak selalu dimulai dari panggung besar.
Kadang ia dimulai dari halaman sekolah. Dari satu barisan. Dari satu tugas yang diselesaikan bersama.
Dan dari keberanian untuk belajar bertanggung jawab sebelum suatu hari diminta memimpin.
Red.
