LOMBOK, Media Pojok Nasional – Ada sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi sering membuat manusia berdebat dengan dirinya sendiri: mengapa orang yang kita harapkan justru tidak menjadi milik kita, sementara seseorang yang tidak pernah kita perkirakan dapat datang begitu dekat? Jawabannya mungkin tidak berada di tempat yang mudah dicari. Ia mungkin berada di antara dua benua, di atas ribuan kilometer perjalanan, lalu berhenti di sebuah rumah di Lombok.
Seorang perempuan asal Eropa datang bersama keluarganya. Perjalanan itu membawa mereka jauh dari tempat asal, menuju seorang pria yang menjadi bagian dari kisah hidupnya. Di tempat tersebut, dua keluarga akhirnya duduk bersama. Perempuan itu mengenakan hijab. Pria di sampingnya memakai peci putih.
Tidak ada yang istimewa jika hanya melihat sebuah foto. Namun foto kadang menyembunyikan perjalanan yang panjang. Di balik senyum terdapat jarak yang telah ditempuh. Di balik pertemuan terdapat keberanian untuk meninggalkan kenyamanan. Dan di balik dua keluarga yang kini duduk bersama, ada sebuah kisah yang sebelumnya berjalan di dua dunia berbeda: Eropa dan Lombok. Jauh di peta. Dekat dalam sebuah pertemuan.
Lalu siapa sebenarnya yang mempertemukan mereka? Pertanyaan itu mungkin tidak perlu dijawab oleh manusia. Sebab manusia sering merasa dirinya sedang memilih, padahal mungkin ia hanya sedang berjalan menuju sesuatu yang telah disiapkan oleh Tuhan.
Kita memilih siapa yang ingin dicintai. Kita menentukan siapa yang ingin didekati. Kita bahkan membuat daftar tentang seperti apa pasangan yang dianggap sempurna. Tinggi badan. Pekerjaan. Keluarga. Penampilan. Jarak. Seolah-olah jodoh adalah formulir pendaftaran yang dapat diselesaikan dengan mencentang semua kolom.
Tetapi kehidupan sering memiliki selera humor yang berbeda. Ia kadang mempertemukan seseorang dengan orang yang sama sekali tidak masuk dalam daftar. Bagi mereka yang merasa wajahnya biasa saja, misalnya, jangan buru-buru menyerah kepada cermin. Jodoh bukan kontes ketampanan, dan hati bukan juri yang bekerja berdasarkan pencahayaan kamera.
Ada orang yang mungkin tidak merasa dirinya paling rupawan, tetapi ternyata memiliki sesuatu yang membuat orang lain ingin pulang kepadanya. Ada pula yang merasa dirinya tidak cukup baik untuk dicintai, sebelum akhirnya seseorang datang dan membuktikan bahwa ukuran manusia terhadap dirinya sendiri belum tentu sama dengan ukuran orang lain.
Maka jangan berkecil hati. Barangkali bukan wajahmu yang kurang. Barangkali orang yang tepat memang belum datang. Dan jika ia belum datang, tidak berarti ia tidak ada. Mungkin ia sedang berada di kota lain. Mungkin di pulau lain. Bahkan mungkin, seperti kisah ini, ia berada di belahan dunia yang berbeda.
Di sinilah takdir menjadi teka-teki yang tidak selalu dapat dipecahkan pada halaman pertama. Seseorang bisa menangis karena kehilangan seseorang yang diyakininya sebagai jodoh. Bertahun-tahun kemudian, ia mungkin baru mengerti bahwa kehilangan itu bukan akhir, melainkan belokan.
Seseorang bisa kecewa karena sebuah hubungan tidak sampai ke pelaminan. Namun bagaimana jika justru di balik kegagalan itu Tuhan sedang menyimpan seseorang yang belum pernah masuk dalam bayangannya? Kita tidak tahu. Dan mungkin memang itulah keindahan sekaligus misteri kehidupan.
Dalam keyakinan kepada takdir Allah, manusia hanya mengetahui sebagian kecil dari perjalanan. Ia membaca satu halaman, sementara Tuhan mengetahui seluruh buku.
Karena itu, jangan terlalu lama memusuhi takdir. Jangan pula menganggap diri sendiri gagal hanya karena seseorang memilih pergi. Tidak semua yang pergi adalah kehilangan. Tidak semua yang tertunda adalah penolakan. Dan tidak semua yang jauh berarti tidak akan pernah datang.
Perempuan itu datang dari Eropa. Pria itu berada di Lombok. Dua keluarga akhirnya bertemu. Dan tiba-tiba, ribuan kilometer yang selama ini tampak seperti penghalang berubah menjadi jalan menuju sebuah pertemuan.
Di situlah kisah ini menyimpan kalimat yang mungkin paling sederhana, tetapi justru paling sulit dipercaya ketika hati sedang kecewa: Jodoh tidak pernah salah alamat.
Ia mungkin terlambat menurut manusia. Ia mungkin terlalu jauh menurut manusia. Ia mungkin tidak sesuai dengan daftar yang dibuat manusia. Tetapi ketika waktunya tiba, jalan yang sebelumnya tidak terlihat dapat terbuka dengan sendirinya.
Maka jangan terlalu sibuk bertanya, “Mengapa belum?” Barangkali pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Sudahkah aku siap ketika waktunya tiba?”
Sebab manusia boleh mencari. Boleh berharap. Boleh membuat rencana. Boleh jatuh cinta. Tetapi ada satu hal yang tidak pernah sepenuhnya berada di tangannya: siapa yang akhirnya tinggal.
Dan mungkin, setelah semua jarak ditempuh, semua keraguan dilewati, serta dua keluarga akhirnya dipertemukan, kita baru memahami satu hal: Tuhan tidak pernah meminta manusia mengetahui seluruh jalan. Manusia hanya diminta berjalan.
Sebab jodoh bukan sekadar tentang siapa yang kita temukan. Jodoh adalah tentang siapa yang akhirnya dipertemukan oleh takdir, pada waktu yang tidak pernah bisa kita atur sendiri. (Ayyubi).
