Pagere Wong Urip Iku Omongane Dewe: Dari Mulut Kita Sendiri, Kita Menjaga atau Menghancurkan Diri

Surabaya, Media Pojok Nasional –
Dalam khazanah kearifan lokal Jawa yang sarat makna filosofis, terdapat satu ungkapan yang sederhana namun menghunjam dalam: “Pagere wong urip iku omongane dewe.” Kalimat ini bukan sekadar petuah biasa, melainkan prinsip hidup yang mengandung dimensi etika, spiritualitas, hingga tanggung jawab sosial yang mendalam.

Secara harfiah, ungkapan tersebut bermakna bahwa pagar atau pelindung hidup seseorang adalah ucapannya sendiri. Dalam perspektif kejawen, “pager” bukan hanya batas fisik, melainkan benteng batin yang menjaga martabat, kehormatan, dan arah hidup seseorang. Dan pagar itu, ditegaskan, dibangun dari kata-kata yang keluar dari lisan.

Dalam ilmu kejawen, ucapan bukanlah sekadar suara yang melintas, melainkan manifestasi dari isi batin. Apa yang diucapkan seseorang mencerminkan kualitas jiwa, kedalaman rasa, serta kejernihan pikirannya. Maka, orang yang sembrono dalam berkata sejatinya sedang merobohkan pagarnya sendiri, membuka celah bagi konflik, kesalahpahaman, bahkan kehancuran diri.
Sebaliknya, mereka yang mampu menjaga tutur kata dengan bijak, terukur, dan penuh kesadaran, sedang membangun benteng kokoh yang melindungi dirinya dari marabahaya sosial maupun spiritual.

Prinsip ini juga menegaskan bahwa setiap ucapan mengandung konsekuensi. Dalam perspektif keilmuan etika, kata-kata memiliki daya cipta, mampu membangun atau meruntuhkan, menyatukan atau memecah belah. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk bertanggung jawab penuh atas setiap kalimat yang diucapkannya.

Di era modern yang serba cepat dan terbuka, terutama dalam ruang digital, prinsip ini menjadi semakin relevan. Banyak individu terjebak dalam kebebasan berbicara tanpa kendali, melupakan bahwa setiap kata yang terucap, baik lisan maupun tulisan, akan kembali sebagai cerminan dirinya sendiri.

Dalam ajaran kejawen, terdapat keseimbangan antara laku (tindakan), rasa (perasaan), dan wicara (ucapan). Ketiganya harus selaras agar manusia mencapai harmoni hidup. “Pagere wong urip iku omongane dewe” menempatkan wicara sebagai garda depan dalam menjaga keseimbangan tersebut.
Ucapan yang dilandasi rasa dan dikontrol oleh kesadaran batin akan melahirkan laku yang bijaksana. Namun jika ucapan dilepaskan tanpa kendali, maka laku pun akan terseret ke arah yang tidak terarah.

Ungkapan ini juga mengandung kritik sosial yang tajam. Ia menohok mereka yang gemar berbicara tanpa integritas, yang ucapannya tidak sejalan dengan perbuatannya. Dalam konteks ini, pagar yang seharusnya melindungi justru menjadi celah yang mempermalukan diri sendiri.
Lebih jauh, prinsip ini mengajarkan bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh jabatan, kekuasaan, atau penampilan, melainkan oleh bagaimana ia menjaga lisannya. Karena pada akhirnya, manusia akan dikenang bukan dari apa yang dimilikinya, tetapi dari apa yang pernah ia ucapkan.

“Pagere wong urip iku omongane dewe” adalah pengingat keras sekaligus tuntunan halus: bahwa hidup bukan hanya tentang berjalan ke depan, tetapi juga tentang menjaga setiap kata yang menjadi pijakan.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh opini dan pernyataan tanpa makna, prinsip ini hadir sebagai tameng sekaligus cermin. Ia menuntut kesadaran, kedewasaan, dan kebijaksanaan, bahwa setiap ucapan adalah pagar, dan pagar itu menentukan apakah seseorang akan berdiri tegak… atau runtuh oleh kata-katanya sendiri.

Oleh: Pimred Media Pojok Nasional, Widji Utomo 

Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *