Pengajian Ruwah Desa Wates Tanjung: Simfoni Spiritual, Tradisi, dan Konsolidasi Sosial di Akar Rumput

Gresik,Media Pojok Nasional –
Di tengah arus modernitas yang kerap menggerus nilai-nilai komunal, Desa Wates Tanjung menghadirkan satu momentum yang bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan artikulasi spiritualitas kolektif: Pengajian Umum dalam rangka Haul Sesepuh Desa, Sabtu malam (14/2/2026), di kawasan Makam Mbah Khayyin.

Kegiatan ini menghadirkan penceramah Ust. Zainal Arifin, S.Hum., dikenal sebagai narasumber keagamaan di TVRI Jawa Timur. Undangan yang beredar melalui jejaring komunikasi internal warga dan organisasi kemasyarakatan menegaskan ajakan partisipasi luas, termasuk dari unsur Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Ranting Wringinanom.

Secara sosiologis, haul bukan hanya ritus doa untuk leluhur. Ia adalah ruang reproduksi nilai, legitimasi moral, dan penguatan identitas kolektif. Dalam tradisi Jawa-Islam, Ruwah menjadi jembatan antara memori spiritual dan tanggung jawab sosial. Pengajian menjadi medium transmisi etika: menghormati pendahulu, merawat harmoni, serta memperkuat kohesi warga.

Namun di sisi lain, partisipasi yang melibatkan pelajar dan organisasi kemasyarakatan menghadirkan dimensi penting: bagaimana batas antara ajakan kultural dan mobilisasi sosial dipahami. Dalam negara hukum yang menjunjung tinggi kebebasan beragama sekaligus prinsip perlindungan anak dan netralitas ruang pendidikan, setiap bentuk pelibatan unsur siswa perlu dipastikan bersifat edukatif, proporsional, dan tidak memunculkan tekanan sosial terselubung.

Di titik inilah kualitas tata kelola sosial diuji. Apakah kegiatan ini murni ruang spiritual yang inklusif dan sukarela, ataukah terdapat ekspektasi sosial yang membentuk kepatuhan kolektif? Transparansi komunikasi dan kejelasan konteks menjadi fondasi agar tradisi tetap bermartabat dan tidak bergeser menjadi alat legitimasi simbolik.

Secara substansial, pengajian haul sesepuh adalah warisan peradaban yang memuliakan ingatan dan menanamkan nilai keteladanan. Ketika dikelola dengan akuntabilitas dan sensitivitas sosial, ia menjadi energi moral yang memperkuat desa sebagai unit peradaban terkecil namun paling kokoh.

Desa Wates Tanjung malam itu bukan sekadar menggelar acara. Ia sedang menegaskan bahwa spiritualitas, jika dirawat dengan ilmu dan integritas, mampu menjadi pusat gravitasi harmoni sosial. Sebuah pelajaran bahwa tradisi bukan beban masa lalu, melainkan cahaya yang menerangi masa depan.

Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *