Murid SDN Babat Jerawat I, Diduga Keracunan MBG, Orang Tua Murid Keluhkan Makanan Basi di Babat Jerawat

Surabaya, Media Pojok Nasional – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi upaya pemerintah dalam meningkatkan kesehatan dan gizi anak sekolah justru menuai keluhan serius dari para orang tua murid di wilayah Babat Jerawat, Surabaya. Sejumlah wali murid menyampaikan kesaksian bahwa makanan yang dibagikan kepada siswa diduga tidak layak konsumsi, bahkan menyebabkan anak-anak mengalami gangguan kesehatan.(3/2/2026).

Salah satu orang tua murid mengungkapkan keprihatinannya setelah anaknya mengalami sakit perut hebat usai menyantap makanan MBG di sekolah. Anak bernama Haniel dilaporkan mulai mengeluhkan sakit perut sejak pulang sekolah pada Senin, 2 Februari 2026. Hingga malam hari, kondisi tersebut berlanjut menjadi diare dan telah terjadi sebanyak empat kali.

“Anak saya pulang sekolah langsung mengeluh sakit perut, lalu bolak-balik ke kamar mandi. Sampai sekarang masih diare. Sebelumnya saya juga sering menemukan buah yang busuk dan makanan yang sudah basi dari paket MBG,” ujar orang tua murid dengan nada khawatir.

Keluhan serupa ternyata tidak hanya dialami satu keluarga. Berdasarkan informasi yang beredar di lingkungan sekolah, pada hari yang sama sejumlah siswa dari beberapa sekolah dasar dilaporkan mengalami gejala serupa.

Sekolah-sekolah yang disebut antara lain SDN Babat Jerawat, SDN Pakal, serta MI Imam Syafi’i. Banyak anak mengeluhkan sakit perut, mual, dan diare setelah mengonsumsi makanan MBG.

Para orang tua menilai bahwa dapur MBG di wilayah Babat Jerawat perlu mendapatkan pengawasan ketat dari pihak terkait. Mereka menduga lemahnya kontrol kualitas makanan menjadi penyebab utama terjadinya dugaan keracunan massal ini. Beberapa wali murid mengaku sebelumnya sudah mencurigai kualitas makanan, terutama buah-buahan yang kerap ditemukan dalam kondisi busuk serta lauk yang berbau tidak sedap.

“Programnya bagus, tapi pelaksanaannya harus diawasi. Ini menyangkut kesehatan anak-anak. Jangan sampai niat baik malah membahayakan,” ungkap salah satu wali murid lainnya.

Hingga berita ini diturunkan, para orang tua berharap adanya respons cepat dari dinas terkait untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap dapur MBG, mulai dari proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan ke sekolah-sekolah. Mereka juga meminta adanya evaluasi serius agar kejadian serupa tidak terulang.

Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa program pangan untuk anak sekolah harus mengedepankan standar kebersihan, keamanan, dan kualitas gizi yang ketat, demi melindungi kesehatan generasi penerus bangsa.(Msh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *