Jombang, Media Pojok Nasional –
Di era ketika berita sering dipenuhi konflik, kecemasan, dan tekanan hidup yang tak kunjung reda, sebuah kalimat sederhana justru datang dari tempat yang tak terduga: unggahan Story WhatsApp milik Nurhadi, yang akrab dipanggil Klubuk.
“Udan angin bosqu, ojo goyang… meski diumbang-ambingno kenyataan tetap ngadek jejek.”
Sekilas terdengar seperti ungkapan biasa. Namun bagi banyak orang, kalimat ini terasa seperti sapaan langsung kepada batin yang sedang lelah.
“Udan angin” menggambarkan keadaan hidup yang sedang tidak baik-baik saja, masalah datang bersamaan, tekanan bertubi-tubi, dan situasi terasa tak menentu. Ini adalah realitas yang tidak ditutupi, tidak dipermanis.
Namun inti pesan terletak pada frasa “ojo goyang” yang dalam makna keseharian berarti “jangan bingung.” Di tengah dunia yang serba cepat dan membingungkan, pesan ini menjadi pengingat penting: ketika keadaan di luar kacau, pikiranlah yang paling harus dijaga tetap jernih.
Kalimat penutup “tetap ngadek jejek” menghadirkan kekuatan paling sunyi, tetap berdiri secara batin. Bukan berarti tidak boleh sedih, bukan berarti tidak boleh lelah, tetapi jangan kehilangan pijakan diri.
Yang membuat kalimat ini menyentuh banyak orang adalah caranya menguatkan tanpa terasa digurui. Tidak ada janji hidup akan mudah. Tidak ada optimisme palsu. Hanya pengakuan jujur bahwa hidup memang bisa mengguncang, dan ajakan lembut agar manusia tidak ikut runtuh di dalam pikirannya.
Di tengah meningkatnya tekanan mental dalam kehidupan modern, pesan seperti ini terasa relevan. Ia bekerja sebagai pengingat bahwa daya tahan manusia sering kali lahir dari kemampuan mengendalikan pikiran, bukan dari kerasnya keadaan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pesan bermakna tidak selalu datang dari panggung besar. Kadang ia lahir dari keseharian, dari pengalaman nyata, dari bahasa yang dekat dengan kehidupan orang banyak.
Satu kalimat pendek itu kini dibaca sebagai refleksi tentang cara manusia bertahan, hidup boleh mengombang-ambingkan, tapi kesadaran tetap bisa berdiri.
Dan bagi sebagian orang yang sedang merasa lelah atau hampir menyerah, pengingat sederhana seperti itu bisa menjadi alasan untuk tetap melangkah hari ini. (hambaAllah).
