Oleh : Janudir Rahman S.IP M.SI
Bangkalan, Media Pojok Nasional — PASCA Jembatan Suramadu rampung, semua pihak meramalkan bahwa Madura akan menjadi sentral Industri Baru di Indonesia. Estimasi ini tentu saja tidak datang dengan serta merta. Berbagai indikasi dan potensi yang ada di Madura memang sangat memungkinkan ramalan tersebut akan menjadi kenyataan. Pulau garam ini secara geografis dekat dengan Surabaya yang notabene merupakan sentral bisnis dan perdagangan terbesar kedua setelah Jakarta.
Madura juga banyak mempunyai lahan kosong, tenaga kerja murah, serta suasana yang aman. Berbagai faktor tersebut tentunya merupakan perangsang bagi menjamurnya industri-industri baru di Madura kedepan.
Yang menjadi pertanyaan besar kemudian, akankah masyarakat Madura bisa menjadi tuan di rumah sendiri?, sebuah pertanyaan yang sebenarnya mengesankan kekhawatiran serta ketidaksiapan masyarakat Madura dalam menghadapi era industrialisasi.
Masyarakat Madura tentunya tidak menginginkan fenomena orang Betawi yang terpinggirkan di tanah kelahirannya terjadi di Madura. Pembangunan dengan segala pernak pernik kemakmurannya akan menjadi sesuatu yang ironi apabila ternyata tidak bisa dinikmati oleh masyarakat Madura sendiri.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, jawaban klise adalah dengan meningkatkan Human Resources. Cuma pertanyaan selanjutnya dengan cara dan sarana bagaimana ?. Hal ini yang acap kali masih menjadi problem yang belum menemukan solusi yang tepat. Berbagai seminar dan forum yang digelar oleh masyarakat maupun Pemerintah daerah hanya menghasilkan sesuatu yang berhenti pada tataran teori dan retorika belaka.
Tidak ada follow Up maupun aplikasi nyata sehingga masyarakat Madura termotivasi guna melakukan percepatan peningkatan Human Resources.
Sebagian besar masyarakat Madura tidak memiliki pendidikan serta keterampilan yang memadai. Fenomena ini disebabkan oleh berbagai faktor. Pertama, masyarakat menganggap bahwa motivasi dan kerja keras lebih penting ketimbang pendidikan. Pandangan ini memang ditunjang dengan fakta yang menunjukkan tingginya angka sarjana yang menganggur. Jadi, buat apa sekolah tinggi-tinggi, kalau nantinya hanya nganggur, yang penting bisa baca, tulis dan berhitung. Begitulah kira-kira stereotype yang berkembang di Masyarakat. Karena itulah pasca SMA mereka lebih tertarik memperkerjakan anak mereka walaupun hanya sebagai pekerja kasar atau mengirimnya ke Malaysia sebagai TKI.
Kedua, tradisi masyarakat Madura yang gemar merantau keluar daerah atau bahkan keluar negeri. Penjual sate dan soto Madura bertebaran di seantero Nusantara.
Daerah mana di negeri ini yang tidak ada orang Madura. Kebiasaan ini memang tidak sepenuhnya salah. Kondisi geografis yang gersang serta kurang tersedianya lapangan kerja membuat masyarakat lebih tertarik untuk mencari penghidupan di luar daerah. Akan tetapi kalau semua masyarakat Madura merantau, siapa yang kemudian membangun Madura sendiri?
Ketiga, masalah klasik, yaitu kendala dana. Cukup banyak pemuda-pemuda Madura yang berpotensi serta mempunyai minat besar dalam dunia pendidikan. Kemauan besar para pemuda tersebut tidak dapat tersalurkan karena tidak adanya fasilitas finansial yang bisa menyokong mereka untuk mengenyam pendidikan tinggi.
Walaupun sekarang sudah mulai dirintis upaya untuk memberikan pendidikan murah, semisal yang dilakukan oleh Institut Negeri Surabaya (ITS) dengan membuka program D3 Teknik Sipil khusus pemuda Madura, akan tetapi kuantitas daya tampungnya masih sangat jauh ketimbang jumlah peminat yang membutuhkan.
Selain masalah pendidikan, problem lain yang perlu mendapat perhatian adalah masalah penjualan tanah. Dengan harga tanah yang terus melonjak hingga kisaran 100 ribu permeter, masyarakat cenderung untuk menjualnya kepada para investor. Hal ini tentu saja cukup memprihatinkan. Kalau hal ini terus dibiarkan lama kelamaan tanah masyarakat Madura yang prospektif untuk dijadikan lahan industri semuanya sudah berpindah tangan.
Tindakan yang harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah setempat pertama kali adalah dengan menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Pasca Suramamadu kesempatan memperoleh penghidupan yang layak di daerah Madura sendiri terbuka lebar. Era industrialisasi yang diambang mata tentunya menuntut banyaknya tenaga kerja trampil dan professional. Untuk itu jika masyarakat madura ingin berperan serta menjadi aktor utama didalamnya, mau tidak mau mereka harus membekali dirinya dengan edukasi serta keterampilan yang layak jual.
Langkah urgen selanjutnya bagaimana memfasilitasi para pemuda Madura yang mempunyai potensi tetapi tidak memiliki kemampuan finansial. Alokasi terhadap dunia pendidikan seharusnya mendapatkan proporsi besar dalam APBD Pemerintah Daerah setempat. Bagaimanapun meningkatkan Human Resources adalah investasi jangka panjang yang pada akhirnya akan menguntuingkan daerah itu sendiri. Salah satu bentuk kongkret pemberian fasilitas ini dengan cara memberikan dan memperbanyak beasiswa.
Entah itu dengan mengambil dari APBD ataupun dengan membantu mencarikan founding kepada berbagai lembaga, perusahaan maupun pelbagai institusi lain yang concern dengan dunia pendidikan. Bentuk lainnya dengan mengembangkan apa yang sudah dilakukan oleh ITS. Tersedianya pendidikan murah dan terjangkau adalah dambaan semua orang. Dengan menerapkan pola kemitraan, alangkah baiknya jika Pemda bisa menggandeng lembaga-lembaga pendidikan agar dapat memfasilitasi pemuda Madura yang tidak mampu. Bukankah di Madura juga banyak terdapat lembaga perguruan tinggi baik itu swasta ( Unira, STAI, STIT NAT, UIM, STKIP, Univ. Wiraraja dll ) maupun yang negeri ( STAIN dan Unijoyo ).
Penulis adalah
Ketua Alumni IMABA
Mantan Mahasiswa UMM Fakultas ISIP Angkatan 2004.
(Anam)
