Dr. CHK Ceritakan Perjuangan “Tanaman Manja” Menguntungkan Kesejahteraan Petani

Bangkalan, Media Pojok Nasional —Disebuah sudut lahan pertanian yang tak jauh dari Tanjung Bumi, sekelompok petani sedang menengok tanaman yang bagi sebagian besar masyarakat Bangkalan masih dianggap asing melon atau “milon” sebagaimana mereka menyebutnya. Ditengah keraguan petani untuk beralih dari padi dan jagung, Kabid Sarana Prasarana Dinas Pertanian Kabupaten Bangkalan, Dr. CHK, Karyadinata menceritakan realitas, tantangan, sekaligus harapan besar dari tanaman hortikultura yang sebenarnya punya peluang ekonomi menjanjikan.

Cerita itu ia sampaikan saat hadir dalam podcast Ruang Tani Bangkalan, yang dipandu oleh jurnalis Anam langsung di lahan tanaman milon tepatnya di Desa Bumianyar, Kecamatan Tanjung Bumi. Sejak awal perbincangan, Dr. CHK mengakui bahwa mainstream petani Bangkalan masih sangat kuat pada tanaman pangan, terutama padi. “Padi ditanam dua kali itu sudah lumrah, bahkan kita dorong tanam ketiga kali. Jagung, kacang tanah, kacang hijau, itu yang paling dominan,” ujarnya.

Namun dari pengamatannya, sektor hortikultura meliputi buah dan sayuran justru menjadi bagian yang “agak tertinggal.” Padahal, kata dia, banyak tanaman hortikultura yang tidak membutuhkan air terlalu banyak, hanya saja perawatannya memang sedikit lebih ‘manja’.

Meski disebut baru berkembang, beberapa wilayah seperti Tanjung Bumi dan Geger mulai mencoba tanaman melon dan semangka. Yang menarik, Dr. CHK bersama tim BPP Tanjung Bumi mencoba menantang kebiasaan dengan menanam melon di musim penghujan, sesuatu yang sebelumnya dianggap berisiko.

“Musim penghujan ini sudah hari ke-58. Dua hari lagi panen. Memang tidak maksimal, tapi sudah luar biasa,” ujarnya dengan nada optimistis.

Ia menjelaskan, merawat melon memang perlu perhatian intensif. Tidak seperti padi yang bisa ditinggal beberapa hari, melon harus dikunjungi setiap hari.

“Pertama harus diikat, dinaikkan sampai atas, digantung, daun yang terlalu banyak dibuang. Pupuk harus ‘ngocor’ seminggu sekali, belum lagi penyemprotannya,” kata Dr. CHK sambil tertawa kecil menyebut tanaman ini betul-betul manja.

Namun hasil yang didapat cukup menggembirakan. Dengan harga pasaran Rp 7.000 per kilogram, satu buah bisa mencapai 4 kilogram. Artinya satu pohon mampu menghasilkan sekitar Rp28.000 sekali panen. “Kalau buahnya maksimal, bisa lebih lagi,” tambahnya.

Anam kemudian mengajukan pertanyaan yang mewakili banyak kegelisahan petani mengapa peluang seluas ini belum dilihat?

Dr. CHK menjelaskan ada dua faktor utama:

  1. Aspek teknis budidaya
    Banyak petani masih enggan mempelajari hal baru. “Mengenalkan teknologi jajar legowo di padi saja susah, apalagi teknik hortikultura,” katanya. Bahkan penggunaan pupuk berimbang pun masih sulit diterapkan secara merata.
  2. Ketakutan pasar
    “Padahal pasar melon itu sebenarnya sudah siap,” tegasnya.
    Ia menambahkan, pembeli biasanya mengambil secara borongan, bukan memilih yang besar-besar terlebih dahulu. Selama petani merawat dengan benar, hasil akan terserap.

Dari sisi sarana produksi, benih melon tersedia di pasaran. Hanya saja, harganya lebih mahal dibanding komoditas lain. Di sisi lain, melon tidak termasuk tanaman bersubsidi sehingga petani harus membeli pupuk nonsubsidi, yang harganya jauh lebih tinggi.

“Urea subsidi itu Rp1.800. Kalau nonsubsidi bisa Rp6.000,” jelasnya.
Meski demikian, ia menyebut hal ini bukan hambatan besar jika petani memahami potensi keuntungannya.

Meski petani takut rugi, Dr. CHK menegaskan bahwa peluang pasar melon saat ini luas dan stabil.
“Yang mau ambil ada. Tapi sistemnya borongan, sekali panen langsung habis. Tidak seperti cabai yang dipanen berulang,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa banyak lahan di Bangkalan yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk hortikultura, terutama saat kemarau ketika lahan tidak terisi tanaman pangan.

Percakapan itu ditutup dengan harapan besar bahwa petani Bangkalan berani mencoba peluang baru. “Aspek budidayanya ini yang penting. Jangan sampai kita sudah investasi tapi tidak memahami cara rawatnya,” pesan Dr. CHK.

Podcast itu bukan sekadar diskusi teknis, melainkan potret tentang bagaimana keberanian, pengetahuan, dan sedikit kemauan belajar bisa membuka peluang ekonomi baru bagi petani. Tanaman hortikultura seperti melon mungkin “manja”, tetapi di tangan petani yang mau mencoba, tanaman ini bisa menjadi masa depan baru pertanian Bangkalan.
(Anam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *