Tragedi Bekas Galian C Jeddih Socah Bangkalan Telan 6 Korban Jiwa Diduga Santri Pondok Jabal Qur’an

Bangkalan, Media Pojok Nasional – Suasana pilu menyelimuti Desa Parseh, Kecamatan Socah, Bangkalan. Enam santri dari Pondok Jabal Quran meninggal dunia akibat tenggelam di kolam bekas galian C kawasan Bukit Kapur Jaddih, Rabu sore sekitar pukul 16.00 WIB. Area yang sudah lama menjadi lokasi terlarang untuk bermain ini kembali memakan korban, meski portal larangan jelas terpasang.

Peristiwa nahas ini terjadi saat para ustadz di pondok sedang fokus melatih santri yang akan mengikuti lomba di Bojonegoro. Menurut penuturan warga setempat, pada hari Kamis sore memang biasanya para santri libur, sehingga banyak dari mereka yang memanfaatkan waktu senggang untuk bermain.

Salah satu warga yang dimintai keterangan di lokasi mengungkapkan bahwa anak-anak sebenarnya telah dilarang keras untuk pergi ke area bekas galian tersebut. Ia bercerita, anak-anak kecil yang ikut nyelonong ke Jaddih sebenarnya sudah diberi peringatan sebelumnya.

“Anak kecil itu dilarang, tidak boleh ke sana. Saya ini penjaga anak kecil, sudah saya kasih tahu. Tapi namanya anak kecil, masih kelas 1 SD, kelas 2 SD, susah dilarang,” jelasnya.

Warga itu mengisahkan bahwa para korban datang secara sembunyi-sembunyi, turun satu per satu ke area bawah. Saat sedang bermain di dekat kolam, tiba-tiba beberapa dari mereka tidak terlihat lagi di permukaan.

“Pas katanya tiba-tiba hilang. Teman-temannya mau bantu, tapi justru semua ikut hilang,” ungkapnya.

Menurut keterangan lain, salah satu santri yang mengetahui kejadian tersebut segera memberi tahu ustadzah.

“Ustadzah bilang, tadi anak kecil itu main tahan napas, tapi nggak balik lagi,” kata warga yang berada di lokasi.

Tanda pertama adanya bahaya muncul ketika sandal-sandal para korban terlihat mengambang di permukaan air kondisi yang langsung membuat panik para santri lain dan warga sekitar. Seorang santri yang bisa berenang mencoba melakukan pencarian langsung.

“Ada satu santri yang bisa berenang. Dia bantu cari, tiba-tiba ada yang ketemu, terus semuanya ikut turun,” kata warga.

Pencarian kemudian melibatkan warga dan dua orang pekerja yang sedang berada di sekitar lokasi. Namun medan yang curam, kedalaman kolam, serta kondisi air yang gelap membuat proses penyelamatan tidak sempat menyelamatkan para korban.

Sementara itu, wartawan lokal Agong menegaskan bahwa keenam korban memang merupakan santri Pondok Jabal Quran. Namun pihak pengasuh pondok hingga kini belum memberikan keterangan resmi terkait tragedi tersebut.

“Terkait itu tidak memberi keterangan. Cuman ada larangan bermain ke galian, namun mereka melanggarnya,” ujarnya.

Pihak kepolisian, termasuk Wakapolres Bangkalan dan tim forensik, sudah memeriksa saksi-saksi di lokasi, termasuk rekaman suara saksi utama yang berada di TKP saat kejadian berlangsung.

Kawasan bukit kapur Jaddih sendiri sudah lama tidak digunakan sebagai area tambang galian C. Aktivitas warga sebagian besar kini beralih pada pembuatan batu bata putih. Namun cekungan air bekas galian yang dalam, ditambah minimnya pengawasan, masih menjadi potensi bahaya besar terutama bagi anak-anak.

Hingga kini masyarakat desa menunggu kejelasan lebih lanjut dari aparat dan pemerintah desa mengenai pengawasan area bekas galian, mekanisme perlindungan bagi warga sekitar, serta langkah penanggulangan agar insiden serupa tidak terulang.
(Hanif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *