Gresik, Media Pojok Nasional –
Hidup manusia adalah rangkaian episode yang tak selalu dapat dibaca dengan logika linear. Apa yang tampak kelam di masa lalu, tidak selamanya menjadi vonis bagi masa depan. Dalam bingkai inilah, perjalanan hidup Miftahul Hadi, Kepala Desa Jatirembe, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, yang akrab disapa Rambo, menjadi cermin reflektif tentang kuasa takdir Allah SWT.
Di masa mudanya, ia kerap dipersepsikan publik sebagai sosok yang keras, dekat dengan kehidupan jalanan, dan dipandang negatif oleh lingkungan. Persepsi itu, baik benar maupun keliru, pernah menjadi stigma sosial yang melekat. Namun sejarah manusia tidak pernah berhenti pada satu bab. Waktu bergerak, kesadaran tumbuh, dan Allah membuka jalan yang tak selalu bisa diprediksi oleh siapa pun.
Kini, Miftahul Hadi terlihat berada di Tanah Suci Makkah, menunaikan ibadah umrah. Sebuah pemandangan yang bagi sebagian orang mungkin terasa kontras dengan citra masa lalunya. Namun justru di situlah letak pelajaran besarnya: Allah SWT tidak terikat oleh penilaian manusia.
Dalam perspektif keilmuan Islam, perubahan hidup seseorang bukanlah anomali, melainkan sunnatullah. Allah berkuasa penuh membolak-balikkan keadaan hamba-Nya, dari sempit menjadi lapang, dari gelap menuju terang, dari jauh menjadi dekat.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah, Dia membolak-balikkan hati itu sesuai dengan kehendak-Nya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa transformasi manusia bukan sekadar hasil kehendak pribadi, melainkan pertemuan antara ikhtiar dan kehendak Ilahi. Maka, tidak ada satu pun manusia yang berhak memvonis masa depan orang lain berdasarkan masa lalunya.
Lebih jauh, Al-Qur’an menegaskan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menjadi fondasi teologis bahwa perubahan adalah mungkin, terbuka, dan selalu diberi ruang oleh Allah, selama manusia mau bergerak, belajar, dan kembali.
Perjalanan umrah yang dijalani Miftahul Hadi bukan sekadar perjalanan fisik ke Makkah, tetapi juga simbol perjalanan batin: dari hiruk-pikuk penilaian manusia menuju keheningan penghambaan di hadapan Tuhan. Ia menjadi pesan sunyi namun kuat bagi masyarakat luas: jangan pernah pesimis dengan keadaan hidup hari ini.
Boleh jadi seseorang sedang berada di titik terendah, dipandang sebelah mata, bahkan dicap buruk oleh lingkungan. Namun rahasia Allah tidak pernah dibocorkan kepada manusia. Siapa pun bisa diangkat derajatnya dalam sekejap, jika Allah berkehendak.
Berita ini pada akhirnya bukan tentang satu nama, satu jabatan, atau satu masa lalu. Ini adalah tentang harapan. Tentang keyakinan bahwa pintu langit tidak pernah tertutup bagi siapa pun. Dan tentang iman bahwa takdir Allah selalu lebih luas daripada prasangka manusia.
Karena di hadapan Allah, yang dinilai bukan siapa kita kemarin, melainkan ke mana arah kita hari ini dan esok. (hambaAllah).
