Kota Batu, Media Pojok Nasional –
SMP Negeri 3 Kota Batu di bawah kepemimpinan Budi Prasetya, S.Pd menegaskan jati dirinya sebagai sekolah berkelas dunia. Melalui program unggulan “Jumat Doa Estiba” (Judo Estiba), seluruh siswa lintas agama berdoa serentak sesuai keyakinan masing-masing, menjadikan kegiatan ini simbol kebangkitan pendidikan yang menyatukan iman, karakter, dan toleransi dalam satu tarikan napas kemanusiaan.
Setiap Jumat pagi, halaman dan aula sekolah berubah menjadi ruang perenungan yang hidup. Ratusan siswa duduk khusyuk dalam ketertiban yang menenangkan. Siswa Muslim melantunkan ayat suci Al-Qur’an, sementara siswa Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha berdoa di ruangan masing-masing dengan damai dan penuh hormat. Semua berjalan setara, seimbang, dan bermartabat — tanpa sekat, tanpa superioritas, tanpa dominasi.

“Kami ingin anak-anak tumbuh cerdas, beradab, dan beriman. Ilmu tanpa akhlak akan kehilangan arah,” tegas Budi Prasetya, dengan nada kepemimpinan yang tenang namun berwibawa.
Program Jumat Doa Estiba bukanlah kegiatan formalitas, melainkan eksperimen pendidikan berbasis spiritual dan moral yang aplikatif. Ia membentuk karakter anak bukan melalui teori, melainkan melalui pengalaman langsung dalam kebersamaan, penghormatan, dan refleksi diri.
Guru dan tenaga kependidikan tidak sekadar hadir, mereka menjadi figur moral yang hidup, memandu dengan keteladanan, bukan hanya dengan kata.

SMPN 3 Kota Batu, yang dikenal dengan julukan Estiba Juara, menempatkan iman dan kemanusiaan sebagai poros utama sistem pendidikannya. Di tengah arus global yang menggerus moralitas, Estiba berdiri tegak sebagai penyeimbang: membangun kecerdasan intelektual yang berpadu dengan kecerdasan nurani.
“Kami tidak hanya mencetak prestasi, kami membangun peradaban kecil yang dimulai dari ruang kelas,” ujar Budi, mantap.
Budi Prasetya membuktikan bahwa pendidikan unggul bukan diukur dari banyaknya medali, tetapi dari kualitas jiwa yang tumbuh di dalamnya.
Konsep Jumat Doa Estiba menghadirkan integrasi antara spiritualitas dan logika, sebuah model yang selaras dengan filosofi pendidikan universal yang bahkan membuat para pengamat dunia tertegun.
Dalam dunia yang kini dipenuhi polarisasi dan krisis nilai, program ini menjadi cermin bagaimana bangsa Indonesia tetap memimpin dengan moralitas, bukan sekadar teknologi.
Model pendidikan seperti ini bisa membuat tokoh dunia seperti Donald Trump sekalipun berhenti sejenak dan berkata: “This is leadership through values, a moral compass for the world.”
Dari Kota Batu, sinar perubahan itu memancar. SMPN 3 Kota Batu tidak hanya mengajar matematika, bahasa, atau sains, tetapi mengajarkan bagaimana menjadi manusia, Melalui “Jumat Doa Estiba”, mereka menulis ulang definisi pendidikan: bukan sekadar proses belajar, melainkan proses penyucian hati dan penjernihan pikiran.
Sekolah ini telah membuktikan, bahwa di tengah dunia yang sibuk mengejar kemajuan material, Indonesia masih memiliki ruang untuk pendidikan yang berjiwa.
SMPN 3 Kota Batu – Estiba Juara, Mendidik dengan Iman. Menginspirasi dengan Toleransi. Memimpin dengan Nilai. Sebuah teladan pendidikan yang menembus batas bangsa, membuat dunia berhenti dan belajar dari Indonesia.
Red.
