BANGKALAN, Media Pojok Nasional – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, suasana harap dan rindu mulai terasa di tengah masyarakat. Di sela kesibukan pelayanan kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan, dr. Nunuk Kristiani S.P, menyampaikan pesan hangatnya kepada publik puasa harus dijalani dengan hati yang khusyuk dan tubuh yang tetap sehat. Menurutnya, Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperbaiki pola hidup.
“Dalam rangka menyambut dan menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan, kami mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan agar ibadah dapat dilaksanakan dengan optimal dan penuh keberkahan,” ujarnya.
Ia menegaskan, puasa bukanlah penghalang untuk tetap produktif. Justru, dengan pengaturan yang tepat, Ramadan bisa menjadi titik balik menuju gaya hidup yang lebih sehat.
dr. Nunuk mengingatkan pentingnya asupan bergizi seimbang saat sahur dan berbuka. Karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau roti gandum, protein dari telur, ikan, atau tempe, serta sayur dan buah harus menjadi pilihan utama.
“Hindari makanan terlalu manis dan berlemak secara berlebihan saat berbuka. Tubuh perlu nutrisi, bukan sekadar rasa kenyang,” pesannya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak “balas dendam” saat berbuka. Pola makan yang berlebihan justru dapat memicu gangguan pencernaan hingga lonjakan gula darah.
Dehidrasi menjadi salah satu risiko saat berpuasa. Karena itu, ia menyarankan pola minum 6–8 gelas per hari, dibagi antara waktu berbuka hingga sahur. “Minumlah secara bertahap. Jangan sekaligus dalam jumlah banyak,” jelasnya.
Selain itu, waktu istirahat juga perlu diperhatikan. Mengatur jam tidur agar tetap cukup akan membantu tubuh tetap bugar menjalani aktivitas harian.
Tetap Bergerak, Tetap Sehat
Ramadan bukan alasan untuk bermalas-malasan. Aktivitas fisik ringan seperti jalan santai menjelang berbuka atau setelah tarawih dapat membantu menjaga kebugaran tubuh.
“Tubuh yang aktif akan membantu metabolisme tetap baik selama puasa,” tambahnya.
Bagi masyarakat dengan riwayat hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung, dr. Nunuk memberikan perhatian khusus. Ia menyarankan agar berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan sebelum menjalankan puasa.
“Pengaturan obat dan pola makan harus disesuaikan agar puasa tetap aman dan tidak menimbulkan risiko kesehatan,” tegasnya.
Di akhir pesannya, dr. Nunuk berharap Ramadan menjadi bulan penuh berkah, bukan hanya bagi spiritualitas, tetapi juga bagi kesehatan masyarakat Bangkalan.
Ramadan, kata dia, adalah kesempatan untuk membersihkan hati sekaligus menata ulang pola hidup. Karena ibadah yang khusyuk akan terasa lebih indah ketika dijalani dengan tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat.
