Malang, Media Pojok Nasional –
Dusun Purwodadi, Desa Bumirejo, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Menghadirkan sebuah pelajaran sunyi namun bernas tentang bagaimana agama bekerja sebagai fondasi peradaban. Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dirangkai dengan doa bersama warga bukan sekadar agenda keagamaan, melainkan peristiwa sosial-intelektual yang memadukan spiritualitas, kepemimpinan, dan tata kelola komunitas. Sabtu (17/1/2026).
Dalam lanskap global yang kerap memisahkan agama dari ruang publik, Purwodadi justru menunjukkan sintesis yang matang: nilai-nilai langit diterjemahkan menjadi etos bumi. Isra Mi’raj, perjalanan transendental Rasulullah SAW, dimaknai sebagai paradigma kepemimpinan dan kehidupan sosial, di mana kedalaman iman harus berbanding lurus dengan kualitas tanggung jawab kolektif.
Kepala Desa Bumirejo, Sugeng Wicaksono, menempatkan peringatan ini dalam kerangka substantif. Ia tidak berbicara dalam bahasa seremoni, melainkan dalam bahasa nilai. Isra Mi’raj, menurutnya, adalah peristiwa yang menegaskan disiplin spiritual melalui salat, sekaligus menuntut konsistensi moral dalam mengelola kehidupan bermasyarakat.
Dalam suasana khidmat,Sugeng Wicaksono turut memanjatkan harapan bagi seluruh warganya,
“Bi syafa’ati Rasululloh, mugi tansah diparingi sehat wal afiat lan murah rezeki, barokah umur kagem sedoyo warga Purwodadi Desa Bumirejo. Aamiin,” ucapnya.
Doa bersama yang digelar menjadi ruang konsolidasi moral. Warga lintas generasi duduk dalam satu kesadaran: merawat iman, menjaga persatuan, dan memperkuat ketahanan sosial desa. Secara sosiologis, peristiwa ini memperkokoh ukhuwah Islamiyah. Secara teologis, ia menghidupkan kembali pesan utama Islam, bahwa ibadah sejati melahirkan keteraturan sosial. Dan secara politik lokal, ia menunjukkan wajah kepemimpinan desa yang berorientasi nilai, bukan sekadar prosedur administratif.
Apa yang terjadi di Bumirejo adalah miniatur tata dunia yang ideal: kepemimpinan yang bertumpu pada etika, masyarakat yang bergerak dalam kesadaran kolektif, dan agama yang hadir sebagai energi pemersatu, bukan pemecah. Di tengah krisis kepercayaan global terhadap institusi dan elite, desa ini justru memproduksi kepercayaan dari bawah, melalui keteladanan, kebersamaan, dan ketulusan.
Isra Mi’raj, di Dusun Purwodadi, tidak berhenti sebagai kisah sejarah. Ia menjadi arsitektur peradaban desa: menghubungkan langit dan bumi, iman dan kerja, doa dan tanggung jawab. Sebuah narasi yang layak dibaca para pemimpin dunia, bahwa masa depan peradaban tidak selalu lahir dari pusat kekuasaan, tetapi kerap tumbuh tenang dari desa yang memahami makna nilai. (hambaAllah).
