Bangkalan, Media Pojok Nasional – Suasana SDN Tanah Merah Dajah 1, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, belakangan ini tidak hanya diramaikan aktivitas belajar mengajar.
Nama salah satu guru di sekolah tersebut, berinisial AG, kini turut bergulir dalam percakapan publik setelah unggahan status WhatsApp miliknya dinilai bernada provokatif dan tidak mencerminkan etika seorang pendidik.
Unggahan itu muncul di tengah sorotan pemberitaan terkait pekerjaan pembangunan pagar sekolah, yang menjadi perhatian lantaran para pekerja terlihat tidak menggunakan alat pelindung diri (APD). Respons AG bukan berbentuk klarifikasi atau penjelasan, melainkan tulisan yang menyiratkan kemarahan sekaligus sindiran keras kepada pihak-pihak yang dianggap mengkritik.
Kalimat yang dituliskan AG berbunyi:
“Sudah tidak memberikan bantuan cuma taunya mencari kesalahan. Kerja kalau mau uang jangan cuma mencari kesalahan orang. Makan uang haram itu biar jadi daging busuk. Kalau kerjaannya lebih parah dari orang ngemis. Mungkin enak dimakan sampai ke anaknya biar jadi daging busuk.”
Unggahan tersebut langsung menyita perhatian. Bukan hanya karena nada bahasanya, namun karena ia datang dari seorang guru, sosok yang sejatinya menjadi rujukan akhlak, keteladanan, dan panutan di lingkungan sosial.
“Sebagai tenaga pendidik, seharusnya memberikan contoh baik,” ujar Supriadi, pemimpin salah satu media online di Jawa Timur, yang menjadi pihak yang merespons keras unggahan tersebut. Menurutnya, tulisan AG bukan hanya tidak etis, tetapi juga berpotensi masuk dalam ruang pidana Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
Supriadi menyebut pihaknya sedang berkoordinasi dengan tim hukum. Jika unsur pencemaran nama baik atau ujaran kebencian ditemukan, laporan resmi bukan tidak mungkin segera diajukan.
Suara dari Warga: “Guru Itu Ditiru, Bukan Didengar Sesaat Lalu Dilupakan”
Di sisi lain, warga dan wali murid yang mengetahui kasus ini turut memberikan pandangan. Bagi mereka, persoalan ini bukan sekadar soal unggahan spontan, melainkan menyangkut kepercayaan moral yang melekat pada profesi guru.
“Anak-anak itu meniru. Kalau gurunya berkata kasar, apa yang akan mereka pelajari?” ucap Nur Rofiq, salah satu warga yang ditemui di sekitar sekolah.
Sementara warga lainnya, M. Zaini, menilai bahwa seorang guru memegang peran penting dalam menjaga kesejukan ruang sosial.
“Media sosial itu terbuka. Sekali menulis, dampaknya luas. Harusnya guru memahami itu,” ujarnya singkat.
Sebagian warga juga berharap agar pihak sekolah tidak menganggap persoalan ini sepele. Mereka meminta adanya kejelasan, baik berupa klarifikasi, teguran, maupun pembinaan.
Kepala Sekolah SDN Tanah Merah Dajah 1, Mutmainah, saat dikonfirmasi, belum memberikan pernyataan resmi. Ia menyampaikan sedang memiliki urusan keluarga sehingga belum dapat memberikan tanggapan.
“Mohon maaf bapak, saya belum bisa konfirmasi. Pona’an saya mau akad nikah besok,” tulisnya dalam pesan singkat.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa ruang digital bukan tempat yang bebas tanpa konsekuensi. Seorang guru, yang di mata masyarakat memegang kehormatan sebagai pembentuk karakter, dituntut bukan hanya menguasai pelajaran, tetapi juga menjaga tutur kata, termasuk dalam unggahan di media sosial.
Publik kini menanti bagaimana langkah yang akan diambil pihak sekolah dan Dinas Pendidikan. Sebab, menjaga wibawa institusi pendidikan berarti juga menjaga kepercayaan orang tua terhadap masa depan anak-anak yang tumbuh di dalamnya.
(Hanif)
