Di Balik Kunjungan Bupati, Kadis Kesehatan Mengawal Nyawa Anak Penderita Atresia Bilier

Gresik, Media Pojok Nasional –
Kunjungan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani kepada seorang balita penderita atresia bilier di Desa Gempolkurung, Kecamatan Menganti, di penghujung tahun lalu tidak berhenti sebagai simbol empati. Di baliknya, terdapat kerja senyap namun menentukan dari Kepala Dinas Kesehatan Gresik, dr. Mukhibatul Khusnah, yang memastikan bahwa negara benar-benar hadir melalui sistem layanan kesehatan.

Atresia bilier bukan penyakit biasa. Tanpa tata kelola rujukan yang cepat, kesinambungan terapi, dan jaminan pembiayaan, penderita, terutama bayi, berhadapan dengan risiko kematian dini. Di titik inilah peran Dinas Kesehatan menjadi krusial, bukan sebagai pelengkap seremoni, melainkan sebagai arsitek keselamatan pasien.

Kehadiran dr. Mukhibatul Khusnah bersama Bupati di rumah pasien berinisial IA (1 tahun) menandai bahwa kasus ini berada dalam pengawasan langsung pimpinan sektor kesehatan. Puskesmas Kepatihan, jejaring rumah sakit, dan mekanisme jaminan kesehatan disatukan dalam satu kendali kebijakan agar pengobatan tidak terputus oleh birokrasi.

Berbeda dengan praktik lama yang sering menyerahkan beban koordinasi kepada keluarga pasien, dalam kasus ini negara mengambil alih tanggung jawab. Pendampingan bukan hanya pada tahap awal, tetapi disiapkan untuk jangka panjang, sebuah indikator bahwa sistem kesehatan daerah sedang bekerja sebagaimana mestinya.

Bupati Fandi Akhmad Yani menegaskan bahwa perhatian kepada warganya harus dibangun di atas sistem yang berfungsi, bukan belas kasihan sesaat. Di lapangan, mandat itu diterjemahkan oleh Dinas Kesehatan melalui tindakan konkret: memastikan rujukan, memastikan biaya, dan memastikan tidak ada anak yang hilang dalam celah administrasi.

Kunjungan tersebut menjadi potret bagaimana kepemimpinan politik dan kepemimpinan teknis bertemu: yang satu memberi arah, yang lain memastikan mesin bekerja. Tanpa sorotan berlebihan, tetapi dengan dampak yang paling penting, kesempatan hidup bagi seorang anak.

Di situlah nilai sejati pelayanan publik diukur. Bukan dari seberapa sering pejabat datang, melainkan dari seberapa lama sistem bertahan melindungi yang paling lemah. (hambaAllah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *