Ponorogo, Media Pojok Nasional -.
Di banyak desa, pembangunan kerap diukur dari seberapa cepat beton berdiri dan seberapa jauh program berjalan. Namun di Desa Bajang, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, ada cara lain untuk memahami kemajuan: melihat bagaimana tradisi tetap diletakkan di tempat tertinggi.
Di atas rangka bangunan yang tengah tumbuh, Sri Nuryati berdiri dengan sikap tenang. Ia memimpin prosesi munggah molo, ritus dalam tradisi Jawa yang menandai puncak pembangunan struktur. Sebuah tindakan yang, dalam kesederhanaannya, menyimpan kedalaman makna: bahwa setiap bangunan bukan hanya disusun oleh material, tetapi juga oleh doa dan kesadaran budaya.
Molo, dalam pandangan Jawa, adalah kepala. Ia melambangkan kesempurnaan dan peneguhan. Ketika ia dinaikkan, bangunan dianggap genap, siap memberi manfaat bagi kehidupan. Namun di tangan Sri Nuryati, makna itu meluas. Ia tidak hanya menggenapkan bangunan, tetapi juga menjaga agar proses pembangunan tetap utuh secara nilai.
Di tengah arus modernisasi yang sering menyingkirkan ritus sebagai sesuatu yang usang, pilihan untuk tetap menjalankan munggah molo adalah sikap. Ia bukan nostalgia, melainkan kesadaran. Bahwa kemajuan tanpa akar akan mudah goyah.
Yang menarik, ritus itu tidak berdiri sendiri. Ia hadir berdampingan dengan agenda pembangunan yang lebih besar: penguatan ekonomi desa melalui Koperasi Desa Merah Putih. Sebuah program negara yang dirancang untuk mendorong kemandirian masyarakat dari tingkat paling dasar.
Di titik ini, Sri Nuryati menunjukkan kepemimpinan yang tidak terjebak pada dikotomi lama, antara tradisi dan modernitas, antara budaya dan kebijakan. Ia mempertemukan keduanya. Program negara tidak dijalankan secara kering, tetapi dihidupkan melalui pendekatan yang berakar pada nilai lokal.
Kain merah putih yang dibentangkan di atas bangunan menjadi simbol yang melampaui fungsi visual. Ia menandai kehadiran negara, sekaligus menyatu dengan ruang budaya yang telah lama hidup di masyarakat. Tidak ada yang saling meniadakan. Yang terjadi justru penguatan.
Kewibawaan Sri Nuryati tidak lahir dari retorika panjang, melainkan dari konsistensi sikap. Dari keberanian untuk menjaga tradisi di tengah tuntutan efisiensi. Dari keteguhan untuk memastikan bahwa pembangunan tidak kehilangan makna.
Dalam lanskap desa yang terus berubah, figur seperti ini menjadi penting. Bukan hanya sebagai pelaksana program, tetapi sebagai penjaga arah. Ia memastikan bahwa setiap langkah maju tetap berpijak pada tanah yang sama, tanah yang menyimpan nilai, ingatan, dan identitas.
Munggah molo di Bajang, pada akhirnya, bukan sekadar peristiwa. Ia adalah pengingat: bahwa pembangunan yang kuat bukan hanya yang berdiri tinggi, tetapi yang berakar dalam. Dan di sanalah, di antara struktur yang menjulang dan doa yang mengalir pelan, seorang kepala desa menempatkan dirinya, bukan di depan sorotan, melainkan di pusat keseimbangan.
Sebuah sikap yang membuat pembangunan tidak sekadar selesai, tetapi juga berarti. (hambaAllah).
