Mengenang Kebersamaan di PKDI Cup I 2025: Ketika Lapangan Hijau Menyatukan Para Kepala Desa

Gresik, Media Pojok Nasional –
Ada peristiwa yang selesai ketika peluit panjang dibunyikan. Ada pula yang jejaknya bertahan jauh setelah stadion kembali sunyi. Turnamen sepak bola Persaudaraan Kepala Desa Indonesia (PKDI) Cup I Tahun 2025 se-Jawa Timur yang digelar di Stadion Joko Samudro, Gresik.

Ajang perdana ini mempertemukan para kepala desa dan perangkat desa dari berbagai kabupaten/kota dalam satu kompetisi yang lebih dari sekadar perebutan trofi. Ia adalah ruang perjumpaan, tempat kepemimpinan dipraktikkan dalam bentuk paling sederhana: kerja sama, disiplin, dan rasa saling percaya.

Tim PKDI Gresik tampil sebagai representasi soliditas daerah. Mengenakan jersey kuning emas dengan slogan “Satu Komando Bersama Sampai Akhir”, para pemain berdiri dalam satu formasi yang mencerminkan filosofi kolektif, bahwa kepemimpinan desa bukan kerja individual, melainkan orkestrasi peran.

Salah satu pemain yang memperkuat tim adalah Kepala Desa Bulurejo, Kecamatan Benjeng, Imam Shofwan. Ia menjadi bagian dari struktur permainan, menyatu dalam ritme tim, tanpa sekat jabatan. Di lapangan, yang berbicara bukan titel, melainkan stamina, strategi, dan kekompakan.

Secara konseptual, PKDI Cup I 2025 menghadirkan dimensi penting dalam tata kelola desa: penguatan modal sosial. Interaksi informal antarpemimpin desa membangun kepercayaan horizontal, memperluas jejaring komunikasi, dan membuka ruang kolaborasi lintas wilayah. Dalam perspektif administrasi publik, relasi yang terbangun secara organik sering kali menjadi fondasi kebijakan yang lebih adaptif dan responsif.

Sepuluh tahun ke depan, mungkin skor pertandingan tak lagi diingat. Namun makna kebersamaan itu tetap relevan. Sebab desa akan selalu membutuhkan pemimpin yang sehat, yang mampu bekerja dalam tim, dan yang memahami bahwa solidaritas adalah energi pembangunan.

PKDI Cup I 2025 bukan sekadar catatan olahraga. Ia adalah arsip sosial tentang bagaimana para kepala desa Jawa Timur memilih untuk saling menguatkan, bukan hanya dalam forum resmi, tetapi juga dalam peluh dan tawa di lapangan hijau.

Dan itulah sebabnya peristiwa ini tidak lekang oleh waktu, karena yang dirayakan bukan sekadar kemenangan, melainkan persaudaraan. (hambaAllah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *