Presma STKIP PGRI Bangkalan Jadikan Buku Sujud Seorang Pelacur Salah Satu dari 6 Karyanya

Bangkalan, Media Pojok Nasional – Di tengah padatnya ritme organisasi dan tanggung jawab akademik, Abdur Rohman SM memilih jalan sunyi yang tak banyak dilirik menulis. Mahasiswa yang kini mengemban amanah sebagai Presiden Mahasiswa (Presma) STKIP PGRI Bangkalan itu kembali menggegerkan dunia akademik lewat capaian yang tak biasa menerbitkan enam buku selama masih duduk di bangku kuliah.

Bagi pria yang akrab disapa Aab, berkarya bukanlah pelarian dari kesibukan, melainkan cara bertahan dan memberi makna. “Menulis lahir bukan dari ruang yang nyaman,” katanya. Justru dari keraguan, ejekan, dan stigma bahwa dirinya tak memiliki minat menulis, Aab menemukan bara tekad yang kian menyala.

Enam karya yang lahir dari proses kreatifnya sebagian besar berbentuk antologi puisi: Jejak yang Tertulis dalam Bait Rindu, Malaikat yang Melahirkan, Tuhan Engkau Penipu, Tuhan Ada di Matanya, Sujud Seorang Pelacur, dan Sakiti Aku Sekali Lagi. Menariknya, dua di antaranya diterbitkan oleh penerbit Mumtaz Cirebon, Jawa Barat, pada awal 2026 sebuah pengakuan yang tak datang tiba-tiba.

“Titik balik saya ketika memilih belajar serius kepada dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Bapak M. Helmi,” ungkap Aab, Minggu (08/02).

Bimbingan dan kritik yang jujur, menurutnya, mengasah keberanian sekaligus ketekunan dalam merawat kata.

Di luar dunia pena, Aab putra kelahiran Kokop juga aktif mengawal isu-isu strategis di lingkungan kampus. Ia memosisikan kepemimpinan mahasiswa sebagai kerja intelektual: mendengar, menyaring, dan menyuarakan aspirasi. “Menjadi mahasiswa bukan sekadar status akademik, melainkan tanggung jawab moral untuk melahirkan karya terutama yang berpihak pada suara mahasiswa,” tegasnya.

Apresiasi pun datang dari pimpinan kampus. Ketua STKIP PGRI Bangkalan, Fajar Hidayatullah, menilai capaian Aab sebagai bukti bahwa kampus bukan hanya ruang transfer teori, melainkan ladang pencipta gagasan, identitas, dan keberanian intelektual. “Puisi dan novel membuka dialog batin, mempertemukan beragam sudut pandang, serta melatih kedewasaan berpikir,” tuturnya.

Lebih jauh, karya Aab dipandang sebagai praktik nyata Outcome Based Education (OBE)—hasil belajar yang tak berhenti pada nilai, melainkan menjelma karya bermakna bagi masyarakat. “Dunia akademik menuntut keberanian untuk berkarya, bersuara, dan meninggalkan jejak intelektual,” pungkas Fajar.

Kisah Aab melampaui sekadar prestasi personal. Ia hadir sebagai pengingat bahwa keterbatasan waktu, tekanan sosial, dan beban organisasi bukan alasan untuk berhenti mencipta. Di sela rapat dan perkuliahan, Aab memilih merawat kata dan dari sana, lahir jejak yang menginspirasi.

Anam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *