Sekolah sebagai Agen Perubahan: Kadisdik Jatim Tinjau Program Pengurangan Sampah Plastik di Jombang

Jombang, Media Pojok Nasional –
Program Pengurangan Sampah Plastik di lingkungan satuan pendidikan kembali diuji di lapangan. Kali ini, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, turun langsung meninjau implementasinya di SMAN 1 Jogoroto, Kabupaten Jombang, Jumat (31/1/2026). Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan upaya memastikan bahwa kebijakan ekologis pendidikan benar-benar bertransformasi menjadi perilaku kolektif warga sekolah.

Dalam peninjauan tersebut, Aries menegaskan bahwa kebijakan pengurangan sampah plastik tidak boleh berhenti pada tataran instruksi administratif. Program ini, menurutnya, harus dijalankan secara nyata dan berkelanjutan dengan melibatkan seluruh ekosistem sekolah, guru, peserta didik, hingga tenaga kependidikan.

“Pastikan sekolah menjalankan Program Pengurangan Sampah Plastik di lingkungan sekolah dengan menerapkan secara langsung bersama seluruh guru, murid, dan tenaga kependidikan. Program ini harus menumbuhkan kesadaran kolektif demi menyelamatkan bumi,” tegas Aries.

Selain memeriksa implementasi Program SIKAP, Aries juga meninjau kelayakan sarana dan prasarana (sarpras) sekolah. Sejumlah ruang kelas dan fasilitas penunjang diperiksa untuk memastikan lingkungan belajar tetap sehat, bersih, dan mendukung proses pembelajaran yang optimal.

Pendekatan ini menegaskan satu hal penting: kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan tenaga pendidik, tetapi juga oleh lingkungan fisik dan budaya ekologis yang dibangun di sekolah. Kebersihan dan tata kelola sampah menjadi indikator konkret sejauh mana sekolah mampu menerjemahkan nilai pendidikan karakter ke dalam praktik sehari-hari.

Namun demikian, peninjauan tersebut juga membuka realitas lain. Di tengah upaya yang sedang berjalan, Aries masih menemukan banyak peserta didik yang menggunakan minuman kemasan sekali pakai. Fakta ini menjadi catatan penting bahwa perubahan perilaku ekologis tidak terjadi secara instan, melainkan membutuhkan konsistensi kebijakan, keteladanan, serta pengawasan berkelanjutan.

Sebagai respons, Aries mengimbau pihak sekolah agar segera memberikan arahan tegas kepada peserta didik untuk membawa tumbler sebagai langkah konkret mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai.

Secara keilmuan, langkah ini sejalan dengan konsep education for sustainable development (ESD), di mana sekolah diposisikan sebagai agen perubahan perilaku sosial. Pengurangan sampah plastik bukan hanya isu lingkungan, melainkan bagian dari pembentukan karakter, disiplin kolektif, dan tanggung jawab sosial peserta didik.

Kunjungan ini menegaskan bahwa keberhasilan program lingkungan di sekolah tidak diukur dari keberadaan tempat sampah terpilah semata, tetapi dari pergeseran pola pikir dan kebiasaan seluruh warga sekolah. Dari sini, pendidikan lingkungan menemukan maknanya yang paling hakiki: membentuk manusia yang sadar, bukan sekadar patuh. (hambaAllah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *