Proyek Irigasi di Wilayah Sepulu Bangkalan Antara Harapan dan Kewaspadaan Warga

Bangkalan, Media Pojok Nasional — Bagi warga desa, saluran irigasi bukan sekadar bangunan beton. Ia adalah nadi yang mengalirkan harapan: sawah tak lagi tergenang, rumah lebih aman dari limpahan air, dan aktivitas sehari-hari berjalan lebih nyaman. Harapan itulah yang menyertai pembangunan proyek irigasi (drainase) di Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan. Namun di tengah proses pengerjaan, muncul pula suara kegelisahan dari masyarakat.

Sejumlah warga Desa Pean menyoroti pelaksanaan proyek yang dinilai masih menyisakan potensi risiko keselamatan. Tumpukan material sisa galian terlihat berada di tepi badan jalan. Bagi warga, kondisi tersebut bukan hanya mengganggu pandangan, tetapi juga berpotensi membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara roda dua.

“Secara visual tampak melenceng dari juknis, karena material dibiarkan menumpuk di sisi jalan. Ini bukan hanya soal keindahan, tapi soal keselamatan,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Kekhawatiran itu mendapat tanggapan dari pemerintah setempat. Camat Sepulu, Hosun, menjelaskan bahwa proyek tersebut telah melalui koordinasi dengan unsur Muspika dan pemerintah desa. Dari sisi fungsi, ia menilai saluran irigasi yang dibangun sudah menunjukkan dampak positif, khususnya dalam mengurangi genangan air saat hujan deras. “Kalau mengikuti alurnya, itu sudah bagus untuk mengurangi genangan air dan mencegah banjir,” jelas Hosun.

Ia juga menegaskan bahwa dokumentasi yang beredar di masyarakat diduga merupakan video lama, sementara kondisi terkini di lapangan telah mengalami perbaikan, sebagaimana ditunjukkan dalam video pembaruan per 7 Januari 2026.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Sepulu, Fais Imron. Ia menuturkan bahwa proyek drainase tersebut memang masih dalam tahap proses pengerjaan dan perapian di beberapa titik. Meski demikian, manfaatnya sudah mulai dirasakan warga.

“Untuk dampaknya, yang awalnya terjadi genangan dengan durasi cukup lama, sekarang Alhamdulillah ada perubahan yang cukup signifikan,” ungkap Fais Imron.

Ia juga memastikan bahwa jalan berlubang di sekitar lokasi proyek telah ditambal demi kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan, serta berkomitmen memberikan pembaruan kondisi terbaru di lapangan.

Di balik dinamika tersebut, dialog antara warga dan pemerintah menjadi cerminan penting bahwa pembangunan bukan semata soal hasil akhir.

Proses yang aman, tertib, dan ramah terhadap aktivitas warga sama pentingnya dengan manfaat jangka panjang yang diharapkan.
Sebagai bagian dari edukasi publik, terdapat prinsip teknis yang secara umum menjadi standar ideal dalam pelaksanaan proyek irigasi dan drainase.

Material hasil galian tidak semestinya dibiarkan menumpuk di bahu atau badan jalan, melainkan dirapikan di area aman atau diangkut ke lokasi pembuangan yang telah ditentukan. Proyek di dekat jalan umum juga wajib dilengkapi rambu peringatan, pembatas sementara, serta jalur aman bagi pengguna jalan, sesuai prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) konstruksi.

Selain itu, selama pengerjaan berlangsung, saluran sementara perlu tetap berfungsi agar tidak memunculkan genangan baru, terutama ketika hujan turun sebelum proyek rampung. Koordinasi aktif antara pelaksana, pemerintah desa, kecamatan, dan Muspika, serta penyampaian informasi kepada warga sekitar, menjadi kunci agar potensi gangguan dapat diminimalkan.
Setelah pekerjaan utama selesai, area sekitar termasuk bahu jalan idealnya dibersihkan dan diratakan kembali agar aman bagi aktivitas masyarakat.

Pada akhirnya, pembangunan irigasi adalah kerja kolaboratif. Ketika warga menyampaikan kekhawatiran, itu bukan bentuk penolakan, melainkan wujud kepedulian agar pembangunan benar-benar membawa manfaat tanpa menyisakan risiko.

Dengan komunikasi terbuka dan penerapan standar teknis yang disiplin, proyek irigasi tidak hanya mengalirkan air, tetapi juga menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan publik.
(Anam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *