Gresik, Media Pojok Nasional –
Kinerja kehumasan SMAN 1 Manyar kini menjadi sorotan publik setelah berbagai keluhan mengenai macetnya komunikasi antara sekolah dan media terus bermunculan. Wakil Ketua Humas, Lukman, disebut publik sebagai sosok yang “tidak pernah benar-benar hadir” menjalankan peran strategis komunikasi sekolah. Kritik ini bukan menyoal pribadi, melainkan gagalnya fungsi humas yang seharusnya menjadi wajah terbuka lembaga pendidikan.
Sejumlah awak media yang datang untuk menanyakan berbagai isu pendidikan, termasuk klarifikasi atas iuran komite Rp200 ribu per bulan yang perlu dijelaskan secara transparan, mengaku hampir selalu pulang tanpa jawaban. Respons pesan minim, koordinasi tidak jelas, dan ruang komunikasi tampak sepi dari sentuhan humas. Publik menilai: ini bukan sekadar masalah kehadiran, tetapi masalah pemahaman peran.
Karena itulah muncul suara keras di tengah masyarakat, “Kalau tidak memahami arti humas, lebih baik mundur dan berikan posisi pada orang yang bisa bekerja.” Nada ini memuat kekecewaan kolektif terhadap absennya fungsi pelayanan informasi yang mestinya berjalan otomatis pada lembaga publik.
Namun kritik tak berhenti di situ.
Sorotan publik juga mengarah pada Kepala Sekolah, Ainur Rofiq yang dinilai memiliki pola komunikasi serupa: sulit ditemui, enggan terbuka, dan kerap muncul persepsi seolah menghindari konfirmasi media. Publik menilai ini bukan perilaku personal, melainkan cerminan budaya birokrasi pendidikan yang memilih diam daripada terbuka.
Mijan, Pengamat tata kelola pendidikan melihat kasus ini sebagai sinyal buruk bagi standar transparansi sekolah negeri.
“Ketika humas tidak berfungsi dan kepala sekolah tidak membuka ruang komunikasi, itu menunjukkan bahwa sekolah kehilangan kompas keterbukaan,” ujar Mijan.
Dalam konteks pendidikan, ketertutupan bukan hanya mencoreng nama sekolah, tetapi juga merusak nilai dasar pelayanan publik.
Banyak yang menilai bahwa fungsi humas di SMAN 1 Manyar sudah berada di titik nadir, sehingga perbaikan struktural menjadi kebutuhan mendesak. Jika terus dibiarkan, sekolah berisiko kehilangan kepercayaan masyarakat dan terjebak dalam citra lembaga yang tidak siap dipertanyakan. (hambaAllah).
