Psikologi Selingkuh Menurut Saiful Macan: Saat Kebohongan Tak Butuh Bukti

Surabaya,Media
Jurnalis sekaligus pemikir humanis Saiful Macan Sang Putra Melas kembali mengguncang ruang kesadaran publik. Dalam refleksi psikologisnya yang terbaru, ia menyoroti perilaku manusia yang mencoba menutupi kebusukan dengan kebohongan, terutama dalam perkara perselingkuhan.

Menurut Saiful, ada fenomena menarik dalam psikologi manusia yang bersalah: mereka cenderung mengaku tanpa ditanya. Dalam bahasanya yang khas, penuh satir dan filosofi rakyat, Saiful berkata:

“Satu contoh, menebak orang itu selingkuh tapi tidak punya bukti, nanti orang itu ngaku sendiri, Pak.
Padahal kamu gak nanya, dia menjelaskan sendiri. Seng penting aku gak lanangan, seng penting aku gak wedok an. Iki jenenge maling ngaku, Pak. 100 persen, saya jamin.”

Kalimat yang sederhana itu, bila ditelusuri secara psikologis, mengandung kedalaman luar biasa. Manusia yang terbebani rasa bersalah, kata Saiful, akan memunculkan reaksi defensif spontan, bukan karena dituduh, tapi karena batinnya sendiri merasa terpojok oleh ketakutan akan terbongkarnya kebohongan.

“Secara logika, siapa yang tanya soal wedokan atau lanangan? Kok jawabnya malah gitu? Itu tanda orang yang berusaha menutupi kebusukan dengan kebohongan,” lanjutnya.

Dalam analisis psikologi perilaku, apa yang disebut Saiful sebagai “maling ngaku” sejatinya sejalan dengan konsep proyeksi diri dan guilty response — di mana pelaku menuduh dirinya sendiri lewat ucapan tak sadar, karena tekanan batin tak lagi mampu menahan beban rahasia.

Bagi Saiful Macan Sang Putra Melas, kejujuran bukan sekadar moralitas, tapi cerminan logika. Ia menegaskan bahwa manusia yang tenang tidak perlu beralasan berlebihan; hanya yang merasa bersalah yang bersembunyi di balik kalimat pembenaran.

“Kalau cuma ditanya ‘dari mana?’ lalu menjawab dengan alasan aneh, itu bukan logika orang jujur, tapi refleks kebohongan,” tutupnya dengan tawa khas yang penuh ironi.

Petuah Saiful kali ini bukan sekadar sindiran untuk para pelaku cinta gelap, tapi juga cermin bagi siapa pun yang bersembunyi di balik dalih. Karena pada akhirnya, seperti katanya, “Maling ngaku, pak. Bukan karena ditanya, tapi karena batinnya sudah keburu bocor.”

Tulisan ini menegaskan kembali posisi Saiful Macan Sang Putra Melas bukan hanya sebagai jurnalis tajam, tetapi juga sebagai pengamat watak manusia, yang mampu memadukan logika, psikologi, dan satire sosial dalam satu kalimat yang menampar nurani. (hambaAllah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *