Menyibak Sirr Jum’at Pertama Ramadhan: Tajalli Ihsan, I’tidal Fiqih, dan Suluk Makrifat Kades Tambakberas dalam Ri’ayah al-Yatama

Gresik, Media Pojok Nasional –
Pada Jum’at pertama Ramadhan, ketika langit seakan lebih dekat dari biasanya dan doa-doa menggantung lembut di antara adzan dan sunyi, Kepala Desa Tambakberas, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Wahyudi, membagikan ajakan kepedulian kepada anak yatim melalui kampanye Yatim Mandiri. Secara lahir ia hanya sebuah unggahan. Namun dalam batin yang peka, ia adalah getaran, sebuah panggilan yang mengetuk ruang terdalam jiwa.

Fiqih menegaskan kewajiban menjaga dan memuliakan anak yatim. Ia kokoh dalam dalil, tegas dalam batas. Tetapi tasawuf mengajarkan sesuatu yang lebih sunyi: bahwa di balik kewajiban ada rahasia. Bahwa menyantuni yatim bukan sekadar memenuhi tuntutan hukum, melainkan menambal retak di dalam hati kita sendiri.

Anak yatim adalah luka yang berjalan. Mereka mungkin tersenyum di hadapan kita, tetapi ada ruang kosong yang tak bisa diisi oleh siapa pun, ruang yang dahulu ditempati oleh suara ayah, oleh tangan yang membimbing, oleh pelukan yang menenangkan saat dunia terasa menakutkan. Ketika Ramadhan tiba dan keluarga lain berkumpul di meja berbuka, ada anak-anak yang menatap piringnya dalam diam, menahan rindu yang tak bisa dibeli.

Di sinilah syariat bertemu dengan hakikat. Memberi pada tingkat syariat adalah sedekah. Memberi pada tingkat tarekat adalah latihan mematahkan kesombongan. Tetapi pada tingkat hakikat, memberi adalah pengakuan bahwa kita pun yatim di hadapan Allah, lemah, bergantung, menanti kasih-Nya setiap detik.

Jum’at pertama Ramadhan bukan sekadar tanggal. Ia adalah simpul waktu yang menguji: apakah hati kita masih hidup? Apakah air mata kita masih bisa jatuh karena penderitaan orang lain? Dalam tasawuf disebutkan, hati yang tidak lagi bergetar saat melihat yatim adalah hati yang mulai membatu.

Bayangkan seorang anak kecil yang mengangkat kedua tangannya saat berbuka, berdoa dengan bahasa sederhana yang hanya ia dan Tuhan yang benar-benar mengerti. Mungkin ia tidak menyebut nama kita. Tetapi jika kita pernah menjadi sebab ia tersenyum, boleh jadi Allah menyebut nama kita di hadapan malaikat.

Kepedulian yang lahir pada hari mulia itu mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kebijakan, tetapi soal keberanian untuk merasa. Dan merasa adalah awal dari makrifat, kesadaran bahwa setiap harta hanyalah titipan, setiap jabatan hanyalah amanah, dan setiap kesempatan berbagi adalah undangan pulang kepada-Nya.

Ramadhan akan berlalu. Jum’at pertama akan menjadi kenangan. Tetapi satu sedekah yang tulus dapat abadi dalam catatan langit.

Jika saat ini mata terasa hangat dan dada sedikit sesak, jangan usap air mata itu terlalu cepat. Bisa jadi itu adalah tanda bahwa hijab sedang tersibak. Bahwa Allah sedang melembutkan hati kita, melalui wajah seorang anak yatim yang menunggu disentuh dengan kasih sayang. (hambaAllah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *